HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #13

13. TAPI AKU TAK PERCAYA TUHAN!


Minggu depannya, Ensia datang kembali ke gereja itu setelah misa selesai dan tempat parkir sudah agak sepi. Ia menuju ke kantor sekretariat dan bertanya kepada seorang staf wanita disitu apakah ia bisa bertemu dengan Frater Markel..

"Frater Markel ada kunjungan di paroki lain," kata sang staf. "Apakah Anda sudah ada janji dengan dia?"

Ensia menggeleng. "Saya kira dia ada disini terus. Baiklah, kalau begitu saya pulang saja. Tolong Mbak bisa sampaikan ini nomor kontak saya," dan dia menuliskan nomor kontaknya di atas sehelai kertas.

"Mbak ada keperluan apa dengan Frater?" sang staf bertanya.

Ensia terdiam sejenak. "Ehm . . . urusan konseling pastoral . . ." lalu dia meralat ucapannya "ah, bukan. Maksud saya, hanya ingin tahu lebih jauh tentang kegiatan organisasi muda Katolik di sini."

Sang staf mengangguk. Ensia berbalik pergi.

Dia habiskan minggu siang itu mengendarai mobilnya tanpa tujuan jelas. Melaju ke tengah kota, terjebak macet di depan alun-alun, lalu begitu saja ia memarkir mobilnya di tepi jalan ramai di depan sebuah kafe. Sepeda motor dan mobil di belakangnya terpaksa berhenti sebentar lalu meliuk ke kanan untuk menghindari mobilnya. Klakson pun berbunyi bersahutan. Ensia tak menoleh sedikitpun ke jalan. Ia duduk dengan santai dan memesan segelas minuman dingin dan kue-kue.

Tengah asyik menikmati kudapannya, ponselnya berdenting. Ia membaca pesan yang masuk: "Selamat siang, Ensia. Ini Frater Markel. Staf kami memberitahu Anda tadi datang kesini untuk mencari informasi tentang kegiatan muda-mudi Katolik. Ada yang bisa saya bantu?"

"Selamat siang, Frater," ia membalas. "Maaf datang mendadak. Saya sebenarnya hanya ingin berbicara tentang masalah pribadi saya."

Lama tak ada jawaban. Ketika tetes terakhir minumannya masuk ke mulutnya, jawaban itu datang: "Anda bisa datang ke gereja? Kami ada ruang konsultasi untuk masalah Anda."

Hampir sejam kemudian setelah ngebut mengambil jalan memutar yang lebih sepi, Ensia mendapati dirinya sudah duduk di ruang konsultasi gereja. Frater muda itu duduk di depannya. Ensia duduk membelakangi pintu yang terbuka. Beberapa staf gereja berjalan lalu lalang di luar. Satu dua orang menengok sekilas ke arah Ensia lalu kembali bekerja.

"Yah, Ensia, bagaimana? Apa yang bisa saya bantu?"

Lihat selengkapnya