“Nah, itu lagi,” sahut Ensia. “Dulu ada juga seorang guru yang pernah bilang gitu. Aku pikir lha kok repot amat harus mati dulu baru bisa lihat Tuhan? Jadi sebenernya Tuhan itu ada nggak sih? Kalau adanya cuma di akhirat setelah kita mati kan ya percuma orang dunia ini mempercayainya?”
“Iman, Ensia. Iman,” Frater Markel menjawab. “Kamu tidak bisa membuktikan keberadaan Tuhan dengan otakmu yang terbatas itu. Hanya iman yang bisa membuat kamu menyadari keberadaanNya.”
“Frater, sejak saya duduk di bangku SD sampai sekarang, di sekolah Katolik juga, saya diajari bahwa otak kita ini benda yang luar biasa. Organ sekecil itu tapi fungsinya dahsyat. Otak manusia juga yang mengantar kita sampai ke teknologi luar biasa jaman sekarang. Tapi kenapa Frater bilang otak saya terbatas? Bingung saya, Frater.”
Frater masih terdiam. Ensia meneruskan rentetannya: “Nah kalo ternyata otak itu dahsyat tapi belum bisa melihat keberadaan Tuhan, kemungkinannya ya cuma dua: otak itu yang memang dogol, atau Tuhan memang tidak ada. Dah, itu aja!”
“Semua pertanyaanmu itu berdasar pikiran manusia, Ens,” Frater Markel berkata. “Kamu dididik secara akal, tapi kan ada juga pembinaan spiritual, pembinaan rohani. Nah, kamu ndak melihat semua ini dari situ, makanya bingung.”
Ensia mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya. ‘Nah, ini aku ada satu lagi keheranan. Kan kapan hari itu Frater mengatakan Tuhan kita itu maha baik dan maha kasih, tapi apa iyaa? Kalau memang Dia maha kasih, kenapa di dunia ini banyak penderitaan? Banyak kemiskinan dan kejahatan? Ada orang kejam kayak Hitler, dan sekarang Trump? Kok bisa begitu kalau memang ada Tuhan yang maha kasih tadi? Ah, bukan cuma maha kasih tapi juga maha kuasa. Kalau maha kuasa kenapa ndak bisa membuat semua itu lenyap dan dunia jadi baik-baik saja?”
“Itu pertanyaan potong kompas, Ensia,” Frater menukas dengan nada agak tinggi. “Kamu tidak bisa menjawabnya kalau tidak memahami betul ajaran iman Katolik. Kamu bisa mulai menjawabnya kalau kamu rajin membaca kitab suci. Kamu akan mengerti karya besar penebusan dosa–”
“Kitab Suci itu kan ditulis ribuan tahun lampau, Frater?” tukas Ensia. “Masa iya aku disuruh membaca tulisan di jaman kuno ndak karu-karuan itu? Lha sekarang jaman sudah sangat modern kayak gini, apa ya masih berguna mbaca kitab itu?”
Untuk kesekian kalinya Frater Markel menarik nafas panjang. Ensia tersenyum, antara pahit dan geli.
“Eh, Frater,” kata Ensia. “Pendidikan Frater sampai nanti jadi Romo itu berapa lama yah?”