Beberapa lama Ensia tidak mengontak Frater. Ia sibuk dengan kegiatannya sendiri, atau lebih tepatnya: dengan kehampaannya sendiri. Akhirnya Frater itu yang menanyakan kabarnya, kemudian menawarinya untuk satu pertemuan lagi. Ensia tidak segera menjawab. Ia membiarkan pesan itu sampai setengah hari, sebelum kemudian menanggapi tawaran itu dengan sesuatu yang membuat Frater Markel terhenyak:
"Aku perlu suasana baru. Frater suka nyetir motor kan? Aku mau kita ke jalur lingkar selatan naik motor, biar dapat suasana baru. Gimana?
"Wow, Ens. Itu pasti akan seru. Tapi . . . apa kamu bisa bawa motormu sendiri?"
"Oh, yaa, tentu saja. Ok, hari Senin depan ini kan libur nasional? Gimana, mau kesana?"
Frater Markel menyanggupi. Hari Senin dia datang dengan Honda CBX 150 nya terisi bensin penuh. Ia menunggu di luar sementara Ensia menyiapkan motornya. Begitu pintu garasi terbuka, Frater mengharapkan gadis itu akan keluar dengan sebuah sepeda motor ringan. Yang ternyata muncul membuat mulutnya ternganga.
Ensia, dengan helm di kepalanya, jaket kulit coklat muda melapis sebuah t-shirt biru laut dan celana jins korduroi hitam dan sepasang sneakers Nike merah, menggelinding keluar di atas sadel sebuah motor Honda CB 300R.
"Ya Tuhan, Ens?" Frater Markel bertanya. "Kamu bisa mengemudikan motor segede itu?"
Ensia menekan tombol starter. Mesin motor besar itu langsung menderum gagah. Ensia membuka kaca penutup helmnya dan berseru kepada Frater Markel: "Yok berangkat!!"
Keheranan Frater Markel terjawab seketika. Ensia dengan sangat fasih melajukan motor itu menyusuri lalu lintas kota. Potongan tubuhnya yang kontras dengan motor itu, ditambah dengan rambut kuncir kudanya yang bertengger di pundaknya, tak urung membuat beberapa mata pengendara memperhatikannya.
Begitu mereka lepas dari pusat kota, jalanan menjadi agak lengang dan Frater Markel harus makin mengakui ketrampilan Ensia melajukan motor gagah itu melesat ke tujuannya. Tubuh dengan lekuk feminin itu memegang setang dengan mantap, tak ragu melajukan motornya di jalan raya. Di jalur lurus dia cukup kencang, dan ketika berbelok pun tekniknya nyaris prima, membuat motor miring, moncongnya masuk menekuk tikungan, lalu tegap kembali dan menderum kencang. Beriringan mereka menyusuri jalan yang makin lama makin lebar dan berkelok itu menuju ke pantai Balekambang.
Mereka sampai setelah perjalanan panjang yang mengasyikkan. Ensia mengarahkan motornya memasuki sebuah kompleks wisma di wilayah pantai Balekambang. Dengan tenangnya ia menuju ke kantor, mengambil kunci sebuah kamar, lalu membukanya dan langsung terduduk di lantainya. Frater Markel dengan raut wajah bertanya dan langkah hati-hati berhenti di pintu masuk.
"Masuk aja Frater. Penginapan pinggir pantai ini salah satu bisnis keluargaku," Ensia menjelaskan. Frater Markel duduk di kursi, dengan kikuk memandang Ensia yang duduk selonjor di lantai. Ensia membuka botol minumnya dan tanpa banyak kata menenggak isinya. Mereka duduk sejenak melepas penat. Setelah beberapa menit tanpa kata, Frater Markel memutuskan untuk mulai.
"Oke, Ensia," katanya. "Bagaimana? Kita mulai sesi konseling sekarang?"
Raut wajah Ensia berubah perlahan. "Mulai darimana yah?"
"Kamu ingin sembuh, bukan?"
"Hmm . . . bahkan aku sekarang tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan seperti itu."
Frater terdiam. Tangan bersedekap di dadanya. Dada mengembang mengambil nafas panjang. Sulit nih anak, batinnya. Harus aku lakukan apa untuk menyembuhkan depresinya? Tapi aku bukan Frater Markel kalau belum bisa menyembuhkannya. Setidaknya ia harus kembali beriman kepada Yesus.