HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #18

18. BERKEPING-KEPING


Patung ibu dan anak berukuran kecil itu selalu disitu, di sudut meja belajarnya. Ensia tak ingat sudah berapa lama mereka berdiam di sana. Ia juga jarang memperhatikan mereka. Ketika kali ini ia mendekat dan merabanya, jemarinya menyentuh debu halus di permukaannya. Ia mengambil sebuah kain lap yang dibasahinya dengan sedikit air. Ia menyeka seluruh patung itu dengan lap lembab di tangannya. Ia cium sekilas patung itu. Hmm, kenapa jadi agak apek begini baunya? Rupanya lap nya tadi kurang bersih.

Ensia mengambil cairan pewangi dan ia semprotkan dengan hati-hati ke beberapa bagiannya. Lalu ia usap dengan kapas bersih keseluruhan permukaan patung itu. Nah, kini kalian sudah harum, pikirnya.

 Ensia memungut patung itu dan meletakkannya dengan hati-hati ke tas ranselnya. Ia lalu merapikan rambutnya, mengenakan t-shirt biru lautnya dan celana panjang hitam, lalu meraih kunci mobilnya dan keluar dari kamarnya menuju garasi. Ia kendarai mobilnya ke tempat latihan menembak di sebuah tanah lapang yang luas. Ia berhenti di sebuah tanah lapang kecil di belakang gedung utama. Beberapa puluh meter dari tempatnya bediri ada beberapa gundukan tanah agak tinggi, dengan tembok panjang yang sudah tertutup semak belukar.

Ia meletakkan patung ibu dan anak itu di sebuah kotak kayu, agak menyembul dari gundukan tanah itu. Lalu ia berjalan menjauh beberapa belas meter. Pelan Ia raih pistolnya dari tasnya. Kedua kakinya sedikit merenggang, kedua tangannya menggenggam erat pistol Glock nya. Ia memicingkan mata kanannya, membidik.

Letusan Glocknya nyaring membelah udara. Peluru melesat menghantam tembok tanah dan memuncratkan sedikit kepulan debu di belakang patung.

Ensia membelalak, tak percaya pada apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin aku bisa luput?

Ia mengangkat lagi kedua tangannya, membidik lagi. Pistolnya menyalak lagi. Selongsong terpental. Debu di tembok tanah di depannya mengepul lagi ketika peluru Glock itu menghajarnya. Patung bergeming.

Fuck, batin Ensia. Bagaimana aku bisa luput lagi, pikirnya.

Sebuah suara di belakang punggungnya nyaris membuatnya terlompat. “Ensia!” panggil suara itu. Ensia menoleh terperanjat. Mika, seorang wanita yang dikenalnya di tempat latihan menembak, memandangnya dengan mulut setengah ternganga.

“Eh, hai Mika,” sapanya. “Latihan nembak,” Ensia berusaha menjelaskan, agak tersipu. “Sial luput terus.”

Lihat selengkapnya