Hastawara

Ropha Locera
Chapter #1

24 Jam

Prang!

Suara kaca pecah jendela kamar yang berada di lantai dua hancur, akibat kemarahan dari salah satu perempuan yang masih muda belia, terlihat dia adalah seorang pemimpin, atau dia adalah sosok yang ditakuti di kalangan mereka.

Semua anak di dalam kamar hanya menonton.

Pecahan kaca berjatuhan dari bingkai jendela lantai dua, sebagian memantulkan cahaya bulan yang masuk dari luar. Udara malam langsung menyusup, dingin, membawa bau tanah basah.

“Risa!” panggil salah satu anak perempuan yang berada di sampingnya, sejak tadi dia menggigit kuku jarinya. Dia memiliki rambut berwarna coklat kehitaman, yang diikat dengan pita merah muda. Tessa Dewanti.

“Hentikan, nanti dia bisa mati!” tambah dia kembali.

Risa tidak menggubris. Tatapannya penuh kebencian, mengarah pada sosok yang tergeletak lemah di lantai.

“Dia tidak akan pernah hampir mati.”

Dia mencoba bergerak. Tangannya menekan lantai, tapi serpihan kaca langsung menusuk kulitnya. Nafasnya tersendat, rasa sakit menjalar dari dahi ke mata, turun ke seluruh tubuh seperti sesuatu yang merayap perlahan.

“Bangun!” perintah Risa.

Dia tidak langsung menjawab, dia mengangkat sedikit kepalanya. Risa mendekat dan—

Duk.

Sepatu itu mendarat tepat di perutnya.

Tessa menoleh. “Cukup, “ bisiknya sesekali melihat ke arah pintu ruangan itu.

Darah merembes keluar dari dahi. Wajah lebam, sudut bibirnya robek, dan napasnya tersengal. Tubuh kecilnya meringis kesakitan, seolah sudah menerima pukulan berkali-kali tanpa ampun.

“Cukup untuk hari ini,” ucap Risa dingin. “Ayo, Tessa!”

Tessa ragu sejenak, lalu mengikuti Risa dari belakang. Langkah mereka menjauh, meninggalkan dia yang tidak berdaya. Wendy Halona.

Anak-anak lain yang sejak tadi hanya menonton perlahan membubarkan diri. Tidak ada yang berani menolong. Menciptakan suara yang lebih menyakitkan daripada pukulan sebelumnya. Mereka semua tahu aturannya.

‘Jangan ikut campur, atau kamu berikutnya.’

Suara gagang pintu berputar memecah kesunyian. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah pasti. Wajah tegas, tatapannya tajam. Dia paling ditakuti oleh setiap anak, dan dia memiliki kekuasaan penuh atas mereka semua. Ibu Melda Hanun.

“Saya mendengar suara pecahan kaca—” ucapnya, lalu terhenti. Matanya membesar saat melihat jendela yang hancur. “Apa ini?”

Dia melangkah mendekat, sepatu haknya berbunyi pelan di lantai, berhenti tepat di depan Wendy.

“Bagaimana bisa kaca jendela pecah?” tanyanya, nada suaranya meninggi sedikit. “Siapa yang melakukannya?!”

Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, semua anak memilih diam, termasuk Wendy.

“Kamu pikir diam akan membuat semuanya selesai?” lanjut Ibu Melda.

Wendy menelan pelan. Tenggorokannya terasa kering.

“Apa ini semua perbuatanmu, Wendy?” tanyanya dingin.

Wendy mendorong tubuhnya bangkit. Lututnya gemetar. Setiap gerakan membuat nyeri menjalar dari dahi hingga tulang rusuknya. “Jika itu bukan perbuatan saya, apakah Ibu Melda bisa percaya?”

Wajah Ibu Melda langsung berubah.

“Sungguh memalukan!” bentaknya.

“Bersihkan semua pecahan kaca ini sekarang juga! Dan setelah sarapan, kamu harus datang ke ruangan saya. Ada hukuman untuk anak yang membangkang seperti kamu.”

Ibu Melda berbalik, lalu berhenti sejenak. Tatapannya menyapu seluruh ruangan itu, seolah tahu kalau anak-anak hanya pura-pura tidur.

“Apa kalian sedang menunggu ayam berkokok?” Suaranya meninggi, “Tidur!”

Mereka semua langsung menutup mata, lampu ruangan dimatikan oleh Ibu Melda yang sempat memandang sinis ke arah Wendy. Suara pintu dibanting kasar sebelum akhirnya sunyi kembali.

Wendy berdiri diam. Perlahan dia berjalan perlahan menuju cermin. Pantulan dirinya membuat dadanya sesak. Dahi berdarah, mata lebam, sudut bibir berdarah dan bajunya kotor oleh jejak sepatu. Dia menatap dirinya lama. Ini bukan pertama kali.

Masalah ini sudah biasa terjadi, jika Risa merasa dirinya tersaingi oleh Wendy di kelas. Air mata jatuh perlahan. Dia menangis dalam diam, air matanya menjadi air untuk membersihkan wajahnya yang penuh luka lebam.

Otaknya mengingatkan bila dia sudah empat belas tahun berada di tempat ini, dan semua terasa semakin berat sejak Risa dan Tessa datang. Ditambah lagi, Ibu Melda menggantikan pemimpin panti asuhan lama.

Wendy menarik nafas pelan, lalu mulai membersihkan pecahan kaca di lantai.

Setelah selesai, dia mengganti pakaian dan naik ke tempat tidurnya. Dari jendela yang pecah, cahaya bulan masuk perlahan. Wendy menatapnya.

“Seandainya aku bisa mati dan hidup kembali, “ bisiknya. “Aku tidak mau hidup di kehidupan ini.” Matanya perlahan terpejam, dan akhirnya terlelap.

Pagi datang terlalu cepat.

Wendy membuka matanya dengan berat. Kepalanya masih terasa pusing, tubuhnya pegal dimana-mana. Bekas luka semalam belum mengering. Dia duduk perlahan di tempat tidur, menahan rasa nyeri yang menjalar.

Ruangan sudah mulai ramai. Anak-anak lain bersiap untuk sarapan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Wendy ke ruang makan, setelah merapikan tempat tidur dan berganti baju.

Di ruangan makan, suasana seperti biasa. Anak-anak duduk rapi di meja panjang. Suara sendok dan piring saling beradu pelan. Wendy mengambil piring yang berisi makanan yang sudah dibagi sejak tadi.

Belum sempat dia mulai makan, bahunya ditepuk dari arah belakang oleh seseorang yang lebih tinggi darinya. Tia Nandini.

“Wendy!” Dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. “Apa yang terjadi semalam? Apa kamu dipukuli sama Risa?”

Tangannya refleks menyentuh dahi Wendy, yang belum bersih sempurna.

Wendy sedikit menoleh, menghindari sentuhan itu.

“Aku terjatuh,” ucap Wendy yang tidak sengaja bertatapan dengan Risa yang sedang duduk di meja seberang.

Tia mengernyit. “Bohong. Kamu pikir aku tidak bisa bedain jatuh sama dipukuli.”

Wendy memilih diam, dan mulai menyendok nasi ke mulutnya. Tia menatap kesal lalu ke arah Risa yang sedang tertawa dengan Tessa.

“Sudahlah …” Wendy menunduk. “Jangan ikut campur.”

“Aku tidak bisa diam saja. Dia harus diberi pelajaran!”

“Jangan, Tia!” Wendy menahan kepergiannya. “Aku tidak apa-apa.”

Tia menatapnya lama, lalu menghela napas.

“Berapa lama kamu mau bertahan seperti ini?” tanyanya pelan.

Lihat selengkapnya