Wendy dan Tia berdiri kaku, menatap sosok yang muncul dari kegelapan di pintu masuk dapur. Cahaya lampu hanya cukup memperlihatkan siluet tubuhnya, tinggi, kurus, dan berambut panjang.
“Siapa itu?” Tanya Tia.
Karin melangkah masuk.
Wendy memicingkan matanya, berusaha mengenalnya siapa sosok itu. Ternyata dia adalah Karin Candrawati, seumuran dan sekamar dengannya. Anak yang tidak suka mencampuri urusan orang lain.
“Karin?” ujar Wendy.
“Dari tadi kamu di sini?” Tia memandangnya curiga. “Apa kamu mendengar pembicaraan kami berdua?”
Karin bersandar pada tembok, di samping kulkas berada. Dia menatap Tia dan Wendy bergantian.
“Kalian terlalu berisik untuk sesuatu yang seharusnya dirahasiakan.”
Tia dan Wendy saling berbalas pandang, mereka sadar kalau Karin sedari tadi mendengar pembicaraan mereka.
“Berarti kamu sudah mendengarnya?” balas Tia.
“Yep …”
“Lalu bagaimana caramu?” tambah Wendy.
Pandangannya kembali intens pada Wendy. “Caranya … jangan kalian cari.”
“Kenapa?” tanya Wendy.
“Karena begitu kalian mulai mencari …” Karin memandang tajam, sambil berjalan mendekat.
“... Kalian tidak akan kembali lagi.”
Keheningan sesaat menyelimuti mereka.
Tia menelan ludah. “Itu pasti karangan kakak panti, kan?”
Karin menggeleng pelan.
“Kalau itu cuma karangan …” Karin memandang ke Wendy lagi, sambil melipat tangannya di dada.
“... Kamu tidak akan kelihatan seperti orang yang kehabisan pilihan.”
Tia menoleh cepat. “apa maksud bicaramu seperti itu?”
Karin tidak langsung menjawab, tatapannya masih tertuju pada Wendy. Lalu berbalik kembali ke tempat awal dia berdiri. “Aku hanya asal bicara.”
“Aneh—”
“Abaikan saja,” ucapnya pelan ke Tia.
Tia memberi tatapan yang kesal pada Karin.
“Jadi … kalian mau masuk?” ucap Karin sambil mengikat tali sepatu.
Wendy menatapnya, “Iya.”
Tia menoleh cepat pada sahabatnya.
“Kamu yakin—”
“Aku sudah bilang tadi,” potong Wendy. “Aku mau masuk.”
Karin melihat betapa yakinnya Wendy. Pancaran matanya seperti menjawab bila dia juga bersungguh-sungguh.
“ … baik,” ucap Karin akhirnya.
“Baik? Lalu?” ujar Tia.
“Aku bisa bantu kalian masuk, “ katanya.
Tia tertawa kecil, “tunggu … jadi kamu tahu caranya?”
Dia mengangguk, “karena kalian tidak akan bisa menemukannya sendiri.”
Wendy menatapnya. “Kenapa?”
“Kalian akan tahu sendiri kalau kalian yang lakukan sendiri.” Karin tertawa kecut pada Wendy.
Tia menghela nafas. “Terus … kita harus bagaimana? Apa hanya menunggu pintu itu muncul sendiri? Sedangkan kuncinya saja ada di Ibu Melda.”
“Kamu tahu dari mana kalau pintu itu membutuhkan kunci?”
“Aku mendengar dari—”
“dari kakak-kakak panti?” Karin tersenyum tipis, seakan mengejek Tia.
“Kunci itu untuk pintu yang bisa dilihat.”
Wendy mengernyit.
Pikirannya langsung mengingatkan tentang kunci, yang dilihat olehnya dari gantungan kunci milik Ibu Melda. Lalu itu kunci apa? Apakah itu untuk pintu yang lain?
“Apa maksudmu?” Tia bingung melihat Karin. “Kamu tahu dari mana? Padahal kamu sendiri belum pernah masuk ke delapan pintu itu.”
Karina tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang mereka bergantian.
“Bukan soal aku pernah atau belum,” ucapnya pelan. “Yang penting … bagaimana kalian bisa menemukan dan bisa masuk ke delapan pintu itu.”
“Aneh … masa iya, pintu itu tidak perlu kunci?” ucap Tia sambil menggelengkan kepalanya.
Karin melangkah satu langkah mendekat.
“ … pintu itu yang memilih.”
Angin malam terasa lebih dingin dari hari sebelumnya, pembicaraan mereka bertiga juga semakin berat.
Tia tertawa kecut, “Memilih? Memilih siapa?”
Karin menatapnya datar. “Siapa yang diizinkan masuk.”
Keheningan menyelimuti mereka.
“Tidak sembarang orang bisa,” lanjutnya. “Dan tidak semua yang mencoba … berhasil.”
Wendy menatap Karin lebih dalam.
“Kalau begitu …” ujar Wendy pelan, “ … bagaimana kita tahu kita bisa masuk?”
Dia diam sejenak.
“Kalau kamu bertanya seperti itu,” ucapnya. “Mungkin kamu belum siap.”
Tia langsung kesal. “Lah terus buat apa kamu tadi ikut campur?”
Karin memandangi jam tangannya, “sudah waktunya kita kembali ke kamar.”
Tia menghela nafas. “Kamu serius? Kita lagi ngomongin—”
“Aku tidak mau mendapat hukuman karena berbicara sama kalian hingga larut malam,” potong Karin.
Dia berbalik dan menuju pintu dapur. Tangannya menyentuh gagang pintu.
“Tunggu.” Ucapan Wendy membuat langkahnya terhenti.
“Kalau kamu tahu,” lanjut Wendy. “Kenapa kamu bilang semua ini ke kami?”
Karin tidak langsung menoleh, dan memberi jawaban yang Wendy inginkan.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Pintu terbuka perlahan. Udara dingin masuk dari luar. Lalu dia menoleh, “ aku cuma dengar suara kalian terlalu keras.”
Saat pintu terbuka lebih lebar, Karin menatap mereka berdua sedikit lama. Dan kalimat terakhir darinya sangat mengganggu.
“Padahal yang kalian cari …” Senyuman tipisnya mengundang tiap kening mereka berkerut.
“... tidak pernah berada di tempat yang sama.”
Karin meninggalkan mereka dan menghilang dalam kegelapan.
“Aku tidak suka dia,” ucap Tia sambil menatap ke arah pintu yang sudah tertutup.
Mereka juga ikut keluar dari ruangan itu. Pikiran Wendy semakin liar memikirkan ucapan Karin yang terakhir, ditambah lagi kunci yang dia lihat dari gantungan kunci milik Ibu Melda.
“Tunggu!” Tia langsung menarik tangannya. “Kamu mau ke mana?”
Wendy menoleh sedikit. “Keluar sebentar.”
“Keluar? Sekarang?” Tia menurunkan suaranya, panik melihat sekitar dan jam tangan. “apa kamu lupa kita punya aturan? Nanti kita bisa dihukum.”
Wendy diam. Tatapannya kembali ke pintu dapur.
“Apa kamu dengar ucapannya yang terakhir?” Ucap Wendy pelan. “Pintu itu tidak perlu dicari … jadi bukan berarti kita harus diam saja.”
Tia menggeleng cepat.