Kamar kembali sunyi setelah Karin memalingkan tubuhnya.
Ucapan gadis itu masih terngiang jelas di kepala Wendy.
“Besok malam. Aku akan tunjukkan sesuatu pada kalian.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa berat. Seolah menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya ingin diketahui.
Lampu kecil di sudut ruangan memancarkan cahaya redup kekuningan. Beberapa anak sudah terlelap, nafas mereka terdengar pelan dan teratur. Selimut tipis menutupi tubuh mereka, sebagian terjatuh ke lantai.
Wendy memejamkan mata perlahan.
Namun baru beberapa detik, pikirannya kembali dipenuhi bayangan lorong lantai tiga. Bau dinding kusam yang lembab, dan tatapan Reni— yang seolah meremehkan keberanian mereka.
Matanya terbuka lagi.
Angin malam menyentuh kaca jendela, menimbulkan bunyi pelan. Seperti ketukan.
“Wendy.”
Suara pelan itu membuatnya menoleh. Karin masih membelakanginya.
“Apa?” bisik Wendy.
“Kalau kamu ingin berubah pikiran …”
“Aku tidak akan berubah,” potong Wendy cepat.
Karin terdiam sesaat.
“Biasanya orang bilang begitu …” katanya pelan, “apalagi mereka belum pernah melihatnya.”
Wendy menatap punggungnya.
“Kamu sedang menakutiku?”
“Tidak.” Suara Karin datar, “Aku cuma tidak mau … kamu menyesalinya nanti.”
Beberapa saat lampu dimatikan. Kamar itu tenggelam dalam gelap.
Wendy memiringkan tubuhnya, menatap langit-langit yang hampir tidak terlihat. Itu membuat matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya terlalu ramai.
Satu perasaan yang paling mengganggu terus muncul, seperti ada sesuatu yang sedang menunggu mereka.
***
Pagi datang lebih cepat dari yang Wendy harapkan. Suara lonceng makan pagi menggema di seluruh bangunan panti.
Beberapa anak mengeluh. Bangun dengan malas, selimut dilipat seadanya. Ada yang masih setengah tertidur saat berjalan ke kamar mandi.
Wendy duduk perlahan. Matanya langsung menuju tempat tidur Karin.
Kosong.
“Tidak biasanya,” gumamnya.
Biasanya Karin tidak pernah bangun sepagi ini.
Wendy baru saja hendak berdiri ketika seseorang membuka pelan pintu kamar.
Tia muncul dari balik pintu kamar. Rambutnya masih sedikit berantakan, dan dia belum berganti baju tidur.
“Wendy … kamu sudah bangun?”
Wendy mengangguk, sambil memberi sinyal untuk berhati-hati saat masuk.
“Masih ada yang tidur.”
Tia masuk dengan langkah pelan lalu menutup pintu.
“Kamu kelihatan seperti orang yang tidak tidur semalam,” katanya saat melihat mata Wendy yang sayu.
“Tidak jauh dari itu.”
Tia menghela napas.
“Jangan bilang kamu masih memikirkan pintu-pintu itu?”
Wendy tidak langsung menjawab.
Tia duduk di ujung ranjang Wendy.
“Wen … kamu mendengarku?”
“Aku bicara dengan Karin semalam,” kata Wendy pelan.
Tia langsung mendekat. “Serius?”
Wendy mengangguk.
“Lalu?”
“Dia bilang … malam ini, dia akan menunjukkan sesuatu.”
Tia menegang.
“Jadi … kita benar-benar akan melakukannya?”
“Sepertinya begitu.”
Tia menatap lantai sebentar. Lalu mengangkat bahunya.
“Baiklah.”
“Baiklah?”
“Aku sudah terlalu penasaran untuk berhenti sekarang.”
Wendy tersenyum kecil.
Dia melihat untuk kedua kalinya, dalam hidupnya bersama Wendy di panti ini.
Senyuman itu.
Itu menyadarkan Tia bahwa itu harapan buat Wendy juga. Karena selama dia tinggal di sini, hanya dia dan Wendy yang belum pernah diadopsi. Dan Wendy sering diperlakukan kasar sama anak-anak panti, mungkin karena tubuhnya yang kecil dan suka mengalah. Lalu ditambah lagi sekarang ibu panti sudah diganti, sehingga Wendy merasa tidak memiliki tempat lagi.
Tia menepuk pelan bahu sahabatnya pelan. “Ayo, kita sarapan dulu.”
Wendy mengangguk.
Mereka pergi dan memulai hari itu. Dan hari itu terasa berjalan lebih lambat bagi Wendy. Jam dinding di ruang kelas seperti sengaja berdetak lebih pelan dari biasanya. Suara guru terdengar jauh seperti gema yang datang dari ruangan lain.
Wendy duduk di dekat jendela.
Tangannya memegang pensil, tetapi buku catatannya tidak terisi pelajaran. Pikirannya kembali pada percakapan semalam dengan Karin.
Pensilnya bergerak tanpa sadar.
Dia menggambar sebuah kotak kecil. Lalu satu lagi, dan satu lagi. Delapan kotak berjajar di halaman buku. Seperti pintu.
“Wendy.”
Wendy langsung berdiri. “Iya, Bu.”
“Apa yang kamu lakukan?”
Wendy langsung menutup bukunya.
“Tidak ada, Bu.”
Guru itu menatapnya beberapa detik sebelum kembali menjelaskan pelajaran.
Namun pikiran Wendy sudah tidak ada di ruangan itu. Yang dia tunggu hanya satu. Malam ini.
Bel tanda akhir kelas akhirnya berbunyi.
Anak-anak langsung bergerak keluar ruangan dengan riuh.
Wendy berjalan menyusuri koridor menuju tangga. Suasana lantai dua penuh dengan suara langkah dan percakapan anak-anak panti. Saat dia sampai di ujung lorong, seseorang memanggil.
“Wen!”
Wendy menoleh.
Tia berlari kecil menghampirinya dari arah tangga lain.
“Ah! Akhirnya ketemu juga,” kata Tia sambil mengatur napas.
“Kamu habis kelas juga?”
“Iya.”
“Kelasmu dimana?”
“Sayap timur. Jauh dari sini.”
Wendy mengangguk.
Mereka berjalan bersama menuju tangga.
Tiba-tiba terdengar tawa yang sangat familiar. Reni.
Dia sedang berdiri di ujung koridor bersama Tessa. Tatapannya langsung tertuju pada Wendy dan Tia. Senyum miring muncul di wajahnya.
“Lihat! Siapa yang sedang terlihat sibuk berbisik.”
Tia langsung menghela napas kesal. “Jangan mulai.”
Reni berjalan mendekat.
“Kenapa? Aku cuma menyapa.”
Tessa tertawa kecil di belakangnya.
“Bukannya kalian berdua sedang mencari sesuatu?”
Wendy tidak menjawab.
Tia menarik lengannya. “Ayo pergi.”
Namun saat mereka berjalan melewati Reni … Dia berbisik pelan.
“Jadi …” Wendy berhenti. “Kalian menemukan sesuatu?”
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Tia langsung berdiri di depan Wendy.
“Tidak ada urusan denganmu.”
Reni tertawa kecil. “Aku cuma bertanya.”
Tessa berdiri di sampingnya, menyilangkan tangan.
“Lagipula …” lanjut Reni, “kami juga tinggal di panti ini.”
Wendy menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalau kalian menemukan sesuatu,” katanya pelan. “Itu juga bukan urusan kami.”
Reni mengangkat alis.
Tia menarik lengan Wendy.
“Ayo.”
Mereka berjalan melewati Reni dan Tessa. Namun saat mereka sudah beberapa langkah menjauh, Reni kembali bersuara.
“Kalau kalian benar-benar menemukannya … kalian tidak akan kembali dengan wajah yang sama.”
Mereka berhenti.
Tia mendengus. “Dia pikir, dia sedang menakut-nakuti kita. Jangan dengarkan dia, ayo pergi!”