Hastawara

Ropha Locera
Chapter #4

Sebuah Kenyataan

Angin bergerak perlahan di atas hamparan rumput yang luas. Daun-daun hijau itu bergesekan satu sama lain, menciptakan suara halus seperti bisikan yang datang dari segala arah. Udara di tempat itu terasa dingin dan bersih, lebih bersih dari udara manapun yang pernah Wendy hirup sebelumnya.

Wendy menoleh ke arah pintu yang baru saja mereka lewati.

Tangga batu yang mereka lewati tadi masih terlihat, namun pintu batu itu telah tertutup perlahan, menyatu kembali dengan dinding tanah seperti tidak pernah ada celah di sana. Sedangkan di depan mereka, kini terbentang padang rumput yang luas. Rumputnya tinggi, bergoyang perlahan diterpa angin yang lembut. Cahaya terang memenuhi langit di atas mereka, tapi ada yang aneh. Tidak ada matahari.

Tia mengedipkan mata beberapa kali, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan sekadar mimpi.

“Ini … benar-benar gila.” Suaranya hampir seperti bisikan.

“Ini bukan lantai tiga, kan?” tambahnya sambil memandang takjub sekelilingnya.

“Bahkan ini bukan di dalam gedung.” Dia melirik juga ke atas. “Matahari juga tidak ada. Betapa aneh tempat ini, ya kan, Wen?”

Wendy terdiam, perhatiannya lebih tertarik dengan sesuatu yang berdiri di tengah padang rumput itu.

Delapan pintu. Masing-masing berdiri sendiri, dengan jarak yang berbeda-beda. Tidak ada dinding, hanya pintu-pintu yang berdiri tegak di atas tanah.

Tia mengikuti arah pandangan Wendy. Begitu dia menyadari apa yang ada di depan mereka, nafasnya tertahan.

Matanya terus bergerak dari satu pintu ke pintu lainnya. Semakin lama dia melihatnya, semakin terasa aneh.

Pintu-pintu itu tidak benar-benar terlihat sama. Yang paling dekat dengan mereka adalah pintu kayu hitam yang sedang diperhatikan Wendy. Namun di kejauhan, pintu lain memiliki bentuk yang berbeda-beda. Salah satunya terbuat dari batu abu-abu yang dipenuhi retakan seperti urat di permukaan batu tua. Di sela-sela retakan itu, cahaya tipis berpendar seperti bara api yang hampir padam.

Pintu lainnya tampak lebih ramping, terbuat dari logam pucat yang memantulkan cahaya langit tanpa matahari. Permukaannya dipenuhi simbol-simbol kecil yang berputar seperti tulisan dalam bahasa yang tidak mereka kenal.

Ada juga pintu yang hampir sepenuhnya tertutup oleh sulur tanaman hidup. Daun-daunnya hijau gelap dan bergerak perlahan saat tertiup angin, membuat pintu terlihat sepertinya bagian dari hutan yang tumbuh di tengah padang rumput.

Tia merinding.

Dia menghitung dengan suara hampir tidak terdengar. “Satu… dua… tiga…” Sampai akhirnya dia berhenti.

“... delapan.”

Angin berdesir lebih kuat di antara rumput-rumput itu.

Tia menelan ludah, “ jangan bilang …”

Dia menoleh perlahan ke arah Karin, yang sedari tadi sudah tertuju pada pintu-pintu itu. Seakan seseorang yang akhirnya melihat sesuatu yang selama ini hanya ada di pikirannya.

“Kita sampai,” katanya pelan.

Tia mengerutkan kening. “Sampai di mana?”

Karin tidak langsung menjawab. Dia melangkah maju beberapa langkah, membiarkan rumput menyentuh lututnya. Lalu dia berkata dengan suara yang hampir seperti bisikan.

“Hastawara.”

Nama itu terdengar jelas di telinga mereka. Hastawara, sebuah kata yang sering mereka dengar di antara anak-anak panti. Kata yang menjelaskan tentang tempat yang memiliki delapan pintu, dan sebuah tempat yang memilih siapa yang boleh masuk ke dalamnya. Dan apakah tempat ini akan membuat mereka yang masuk, tidak akan pernah kembali? Namun Tia selalu menganggapnya hanya sebuah karangan kakak panti.

Sekarang delapan pintu itu berdiri di depan mereka.

“Jadi … tempat ini benar-benar ada,” katanya pelan.

Wendy masih memandangi pintu-pintu itu.

“Kenapa namanya Hastawara?” celetuk Wendy. Pertanyaan itu membuat Tia langsung menoleh langsung ke Karin.

“Iya,” katanya cepat. “Kenapa Hastawara?”

Karin menghela nafas pelan. “Sebenarnya … Nama itu bukan nama asli tempat ini,” ucapnya.

Tia melipat kedua tangannya. “Lalu?”

Karin menoleh sedikit. “Nama itu diberikan oleh seseorang?”

“Siapa?” Tanya Tia.

Karin terdiam beberapa detik. Matanya menyapu padang rumput itu perlahan.

“Kak Venny.”

Tia langsung bereaksi. “Kak Venny?!”

Nama yang tidak asing bagi mereka.

Kak Venny adalah salah satu kakak panti yang dulu sering bercerita kepada anak-anak sebelum tidur. Dialah yang pertama kali menyebarkan cerita tentang tempat dengan delapan pintu.

“Dia pernah melihat tempat ini,” lanjut Karin.

“Tunggu dulu,” potong Tia. “Maksudmu, Kak Venny pernah ke sini?”

“Tidak.”

Wendy dan Tia saling berbalas pandang.

“Lalu … bagaimana dia tahu tentang Hastawara?” tanya Tia lagi.

Karin menunjuk ke arah pintu-pintu itu. “Karena dia pernah melihat seseorang masuk ke sini.”

Wendy menoleh. “Pasti karena melihat Kak Gina, kan?”

Karin mengangguk, dan Tia terdiam sejenak.

Kisah itu memang pernah mereka dengar, dimana Kak Gina menghilang dari panti sekitar tiga tahun yang lalu. Ada yang mengatakan kalau dia kabur dari panti, tapi Kak Venny selalu mengatakan hal yang berbeda. Terdengar seakan dia sedang menutupi sesuatu, tetapi kebenaran akan terungkap tanpa harus disembunyikan.

“Sebenarnya yang terjadi adalah dia melihat Kak Gina membuka pintu yang tidak seharusnya ada,” ungkap Karin. “Setelah itu Kak Venny mulai menyebut tempat ini adalah Hastawara.”

“Jadi artinya apa?” tanya Tia.

Angin bergerak lebih kuat, membuat rumput-rumput di sekitar kaki mereka berdiri pelan.

“Hasta berarti delapan.”

“Wara?”

“Artinya Gerbang.”

Tia menatap pintu-pintu itu lagi.

“Jadi ini Hastawara itu … kenapa pintu berbeda-beda?” ucapnya sambil melirik ke arah Wendy.

Karin tidak langsung menjawab. Dia hanya berjalan perlahan beberapa langkah, seolah sedang memastikan sesuatu.

“Karena mereka memiliki tujuan yang berbeda juga.”

Tia melirik pada sahabatnya

“Apa kamu tidak menyukai tempat ini?”

Wendy berjalan perlahan mendekati salah satu pintu. “Buat apa?”

“Karena semua cerita tentang Hastawara akan selalu berakhir buruk, Wen.” Tia memandang khawatir sahabatnya sambil menunjuk pintu-pintu itu.

Wendy memperhatikan pintu itu.

“Apakah masalah?” tanya Wendy. “Bila aku ingin tahu dunia seperti apa itu? Yang katanya bisa membawa kita ke dunia yang berbeda dari dunia kita.”

Karin menjawab pelan, “Dunia yang selalu ingin kita lihat.”

Lihat selengkapnya