Angin laut bergerak perlahan di sekitar mereka, membawa aroma asin yang bercampur dengan sesuatu yang manis dan asing. Cahaya putih dari pintu tadi masih membekas samar di mata Wendy, membuat pandangan terasa kabur beberapa detik sebelum akhirnya dunia di sekelilingnya kembali jelas.
Tubuhnya sedikit terhuyung saat kakinya menyentuh sesuatu yang keras. Tidak ada lagi ruang putih tanpa batas itu. Yang tersisa hanyalah suara ombak kecil dan udara hangat yang terasa lembab di kulitnya.
Di belakangnya terdengar suara benturan keras.
BRAKK.
“Au!”
Wendy langsung menoleh.
Tia duduk setengah bersimpuh di tanah sambil memegangi lengannya dengan wajah meringis.
“Aku tidak suka cara tempat ini menyambut tamu,” gerutunya kesal. “ Kalau begini terus, lama-lama aku bisa mati bukan karena monster, tapi karena jatuh. Aku benci tempat ini!”
Wendy tidak sempat menjawab.
Karena saat itulah angin kembali berhembus pelan, dan pandangan mereka terbuka sepenuhnya pada dunia di hadapan mereka.
Laut luas membentang sejauh mata memandang. Namun itu bukan laut seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Airnya begitu jernih, hampir seperti kaca. Permukaannya tenang, bening seperti kaca tipis yang membiarkan dasar laut terlihat jelas dari atas. Tidak ada lumpur. Tidak ada pasir. Yang ada hanyalah ribuan kerikil kecil berwarna-warni yang memenuhi dasar laut itu seperti serpihan pelangi yang ditaburkan seseorang ke dalam air.
Merah, biru, ungu, hijau, emas— semua warna bercampur dan berkilauan setiap kali ombak kecil bergerak pelan di permukaan. Cahaya dari langit tanpa matahari itu memantulkan lembut di atasnya, membuat dasar laut tampak hidup seperti kaleidoskop raksasa yang terus berubah.
Tia berdiri perlahan di samping Wendy.
Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki Hastawara, dia benar-benar kehilangan kata-kata.
“Wen …” bisiknya pelan. “Kita masih di bumi, kan?”
Wendy tidak menjawab.
Dia justru melangkah mendekati air dengan hati-hati, seolah takut semua itu hanya ilusi yang akan menghilang begitu disentuh.
Ujung sepatunya menyentuh permukaan laut.
Dingin.
Namun bukan dingin yang menusuk. Air itu terasa lembut, hampir seperti menyentuh kain tipis yang mengalir di kulit.
Wendy melangkah sekali lagi.
Airnya hanya mencapai mata kaki.
Dia berhenti sejenak, lalu menoleh pada Tia.
Tia mengangkat sebelah alisnya.
“Jangan bilang …”
Tanpa menunggu lagi, dia langsung ikut masuk ke laut itu. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah— ekspresinya perlahan berubah dari ragu menjadi bingung.
“Ini … dangkal.”
Dia berjalan lebih jauh lagi, kini setengah berlari kecil sambil tertawa gugup. Namun meski mereka sudah semakin menjauh dari bibir pantai, air itu tetap tidak lebih tinggi dari betis mereka.
“Ini bukan laut,” gumam Tia sambil melihat ke bawah. “Ini seperti … jalan berair dengan berbagai batu yang berwarna-warni.”
Dia berjongkok, mengambil beberapa kerikil warna-warni dari dasar laut. Kerikil itu licin dan halus seperti kaca yang sudah lama digerus ombak.
“Lihat ini.”
Dia menunjukkannya pada Wendy seperti anak kecil yang menemukan harta karun.
Kerikil merah di tangannya memantulkan cahaya ke wajah mereka. Indah sekali.
Tapi bila semakin lama Wendy memperhatikan laut itu, semakin besar rasa tidak nyaman yang tumbuh di dalam dirinya. Karena laut itu terlalu sempurna. Ditambah lagi tidak ada ombak besar, tidak tercium aroma amis, bahkan tidak ada suara burung laut maupun hewan dan tumbuhan laut.
Dia menunduk lagi, mencoba melihat lebih dalam ke dasar air. Kosong.
Tidak ada kehidupan apa pun di dalamnya, hanya kerikil warna-warni yang membentang tanpa akhir seperti dunia buatan.
“Tia?”
“Iya?”
“Kamu sadar sesuatu?
Tia ikut menunduk ke dalam air. Awalnya dia hanya diam, lalu perlahan wajahnya berubah.
“Ini …” Tia menelan ludah. “INI TERLALU TERLALU SEPI.”
“Sangat sepi,” ujar Wendy.
Tia mengangguk pelan. “Kita harus berhati-hati.”
“Benar … kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.”
Tia mengangguk lagi.
Angin kembali bergerak melewati mereka. Suasana berubah tidak nyaman.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih pelan. Air terus bergerak lembut di sekitar kaki mereka, membuat kerikil-kerikil pelangi di bawah sana terlihat seperti cahaya hidup yang bergeser mengikuti langkah mereka.
Di kejauhan tampak sebuah pulau kecil.
Dari tempat mereka berdiri, pulau itu terlihat biasa saja. Dipenuhi dengan pepohonan hijau yang bergoyang perlahan diterpa angin. Tapi di dunia seperti ini, Wendy sudah mulai tidak percaya pada kata ‘biasa’.
Wendy menatap dari kejauhan.
“Apa kita akan ke sana?” tanya Tia.
Wendy mengangguk pelan. “Kurasa hanya itu satu-satunya tempat tujuan kita.”
Tia melihat ke segala arah. “Dengan jalan kaki?”
“Sepertinya begitu.”
“Serius?”
“Tidak ada cara lain selain dengan jalan kaki.”
Tia menghela nafas panjang, “baiklah.”
Mereka terus berjalan.
Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini dengan langkah yang lebih pelan. Semakin jauh dari mereka berjalan, dasar laut mulai berubah. Kerikil pelangi perlahan digantikan oleh struktur bercabang yaitu terumbu karang.
Warna karang tidak seperti yang biasa mereka ketahui. Terumbu itu berwarna emas. Bukan sekadar kuning. Benar-benar seperti logam emas yang memantul cahaya, ditambah lagi dari sinar cahaya dari atas membuktikan kalau itu benar-benar emas.
Tia membungkuk dan menyentuh salah satunya. “Ini … keras banget.”
Dia mengetuknya dengan ujung jarinya, lalu tertawa kecil, tapi tawanya seakan meledek kenyataan.
“Kalau ini emas beneran, kita bisa jadi orang paling kaya di dunia.”
Wendy memperhatikan karang itu. “Kalau di dunia Hastawara … segala sesuatu mungkin saja.” Kemudian dia melihat ke pulau yang semakin dekat dengan mereka.
“Aku sarankan untuk tidak mengambilnya, karena itu bukan untuk kita walaupun bisa menjadi milik kita.”
“Tapi akan sangat menyenangkan bisa memilikinya,” ujar Tia sambil melihat terumbu karang yang terhampar sejauh mata memandang.
“Kita tidak pernah tahu kapan penyesalan itu akan terjadi pada kita?” Wendy memandang tajam pada Tia. “Ayo! Kita pergi sebelum hari sudah siang.”
“iya, ya. Aku tahu.”
Mereka melanjutkan perjalanan dan semakin dekat ke pulau itu, udara juga ikut berubah. Aroma asin laut perlahan menghilang, digantikan aroma hangat yang manis. Manis seperti roti yang baru dipanggang.
Tia mengernyit. “Apa kamu mencium itu?”
Wendy mengangguk pelan.