Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #1

Bab 1. Penyusup Gila

"Apa lo buta?" tanyaku berbisik, menunjuk cowok yang duduk di bangku depanku. "Jelas-jelas dia bukan Ken."

Teman sebangku yang kuajak bicara menguap, nggak peduli. Pandangannya lurus ke meja guru, tempat Bu Dina menjelaskan definisi administrasi secara umum.

"Ara ...." Aku menggoyang lengannya. 

"Hm?" sahutnya malas.

Aku menghela napas, kembali duduk dengan tegak, mencoba memperhatikan guru meski sulit. Pikiranku mengelana, mengkhawatirkan teman sekelasku yang tiba-tiba menghilang, digantikan cowok nggak dikenal. Meski hanya terlihat punggungnya, aku sangat yakin bahwa cowok yang duduk di depanku saat ini bukan Ken. 

Kulirik Ara dengan kesal karena nggak memedulikanku. Apalagi, semua siswa juga seolah buta. Omong-omong, Ara adalah teman sebangkuku sejak kelas satu. Pada kenaikan kelas dua ternyata kami ditempatkan di kelas yang sama. Daripada beradaptasi dengan teman baru, kami sepakat sebangku lagi.

Dia merupakan cewek yang sedikit tomboy. Rambutnya dipotong nyaris sependek rambut cowok pada umumnya. Sikapnya juga cuek. Kadang aku sebal padanya. Meski begitu, dia adalah teman paling pengertian yang pernah kukenal. 

Bu Dina kini beranjak ke papan tulis. Beliau menggambar sebuah kotak dengan tulisan di tengahnya, lalu beberapa kotak lagi dengan tulisan berbeda. Kemudian beliau menghubungkan kotak-kotak itu dengan garis. Rupanya guru bertubuh langsing itu menggambar sebuah bagan. "Salin ini ke buku kalian!" Beliau lantas mengambil buku catatan dan menuliskan keterangan istilah dalam bagan di papan tulis.

"Ra ...," panggilku lagi, menyenggol siku kawanku. "Tadi Ken masuk, kan? Tapi, lihat, sekarang nggak ada. Yang ada malah orang lain. Jangan-jangan ada apa-apa sama dia. Istirahat pertama udah selesai, lho."

Ara mengambil penggaris. "Siapa tahu yang di depan lo itu Ken yang habis disulap ibu peri jadi ganteng," sahutnya nggak acuh.

"Nggak lucu," tukasku sebal. 

Cowok yang kubicarakan tadi membalik tubuhnya sehingga menghadapku. Dia menyangga dagu dengan kedua telapak tangan. Cengiran tersungging di bibirnya. Wajahnya imut dengan mata beriris coklat gelap dan alisnya yang hitam panjang. Bulu matanya terlalu lentik untuk ukuran cowok. Dia menatapku dengan intens sehingga membuatku salah tingkah. Dia juga memandangku sangat dekat hingga saking dekatnya aku bahkan dapat melihat pantulan diriku di matanya. Jantungku berdentum-dentum. 

"Hai, Luna," sapaya padaku dengan suara rendah. Dia lantas tersenyum.

Aku mengernyit. Dari mana dia tahu namaku? Batinku bertanya. Namun, yang keluar dari mulutku adalah, "Di mana Ken?"

Alisnya mengerut, tetapi hanya sekilas. "Yah, untuk beberapa waktu ini, anggap aja gue Ken.”

"Tapi, lo kan bukan Ken." Aku jadi sedikit percaya perkataan Ara tadi tentang ibu peri. Mungkin aku bisa minta dia untuk menggandakan uangku kalau ketemu nanti. Oh, tapi, bukankah menggandakan uang keahlian dukun? Ah, masa bodoh, coba aja dulu.

"Gue emang bukan Ken, tapi gue lebih ganteng dari Ken," katanya.

Widih, ge-er, tapi bener juga, sih. "Lo apain Ken?" tanyaku curiga. Jangan-jangan dia ibu perinya. OMG, tidak!

"Sstt!" Ara mendesis. Aku menoleh padanya.

"Ra, lihat dong! Gue bener, kan? Dia bukan Ken. Dia penyusup," kataku menarik perhatian Ara meski dengan suara serendah mungkin. Aku nggak mau membuat masalah di kelas Bu Dina. Pasalnya, guru berkacamata itu amat tegas. Jika ada yang ketahuan melanggar peraturan saat jam pelajarannya, guru itu akan menandainya. Selama seminggu penuh hidupnya di sekolah pasti sengsara karena menjadi kacung Bu Dina.

"Penyusup?" Cowok itu mendengkus. "Kejam amat bilang gue penyusup."

Dengan memandang papan tulis dan bukunya secara bergantian, Ara berkata, "Mau penyusup, kek, mau mata-mata, kek, gue nggak peduli. Yang penting bukan pencuri."

"Oh, gue emang pencuri," kata cowok itu yang membuat Ara menoleh. "Tapi, gue mo nyuri hatinya Luna."

"Anjim!" seru gadis tomboy itu. "Gombalan sejuta umat." 

Mereka lantas terkekeh.

Mataku memelotot. "Nggak lucu!"

Kekehan Ara membuat Bu Dina berbalik. Begitu pula dengan cowok itu. "Siapa yang berisik? Luna?" seru Bu Dina memelotot padaku.

"Bukan saya, Bu," kilahku melirik Ara yang mengulum tawa.

"Yang kerja tangannya, ya, bukan mulut!" Guru itu lantas kembali menulis di papan.

Aku menyenggol siku Ara dengan kesal. Cowok itu kembali menghadapku. Kali ini ia melipat tangannya ke ujung mejaku.

Lihat selengkapnya