Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #2

Bab 2. Pembawa Masalah

Akhirnya .... 

Batinku lega saat mendengar bel istirahat ke-dua berbunyi. Dua jam pelajaran ini terasa seperti neraka bagiku. Bagaimana tidak? Sejak ada penyusup gila di kelas, Bu Dina selalu mengawasiku seolah aku bom yang dapat meledak tiba-tiba lalu mengacaukan seisi kelas. Setiap bergerak, meski hanya menegakkan punggung, dia akan menatapku galak. 

Setelah guru berambut dicepol rapi itu keluar kelas, aku baru bisa mendesah panjang. Kuregangkan tangan dan leher, kupijat tengkuk yang kaku. Rasanya lebih menegangkan ketika aku sedang ujian.

Ara bangkit. "Gue mau ke kantin. Lo ikut nggak? Atau mau nitip aja?"

Baru setengah mengangkat pantat, aku teringat bahwa uang sakuku tinggal dua ribu. Aku kembali duduk, lantas menggeleng, "Lo duluan aja, deh. Gue mau pipis."

Ara mengedikkan bahu singkat, lantas pergi. Setelah mengawasinya keluar kelas, aku melipat tangan ke perut, menyandarkan kepala dengan lemah ke meja. Sebenarnya aku memang lapar. Cacing-cacing di perutku berdemo supaya sembako mau turun. Tetapi apa mau dikata, uangku hanya cukup untuk ongkos pulang. Aku memang orang miskin. 

Ayahku hanya pekerja bangunan, sedangkan ibuku buruh cuci. Kakekku dulu orang berada. Dulu dia memiliki banyak tanah. Karena merasa tercukupi, sewaktu muda, Ayah nggak mau berusaha dengan keras. Jadi saat tanah kakekku habis dijual untuk pengobatannya, dan nggak ada warisan yang tersisa lagi untuk anak-anaknya, mau nggak mau, Ayah harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecilnya. Ayah hanya lulusan SMP. Dia bekerja serabutan sebagai pembantu tukang di proyek-proyek bangunan. Pekerjaan itu selalu membuatnya kelelahan hingga hanya keluhan dan alkohol yang dibawanya pulang.

Ibuku dulu bukan dari keluarga kaya. Tetapi, ibuku adalah wanita paling sabar sedunia. Ketika Ayah mengeluh dan menyalahkan ibuku karena nggak punya apa-apa, beliau menerima hinaan demi hinaan yang dilontarkan dengan sabar. Saat aku kelas enam SD, Ayah pergi meninggalkan kami demi wanita penghibur yang sering nongkrong di perempatan. Meski Ayah sudah berbuat seperti itu, Ibu melarangku membencinya. 

"Bagaimanapun, dia adalah ayahmu," tutur Ibu setiap kali aku mencerca Ayah. "Yang penting kamu harus hati-hati dalam mencari pasangan kelak. Jangan seperti ayahmu yang tidak bertanggung jawab." 

Nasihat itu selalu kutanamkan dalam hati dan pikiran.

Cacingku memprotes lagi, kali ini terasa melilit. Nggak lama kemudian, terdengar duk keras di meja. Aku menegakkan punggung. Rupanya Ken menaruh botol jamu kunir asam di mejaku. Dia menyodorkan jamu itu padaku, lantas mengempaskan diri ke bangkunya. Dia sudah memakai seragamnya kembali.

"Apa, nih?" tanyaku mengernyit.

"Dari Yash," jawabnya singkat. 

"Hah?" Keningku berkerut dalam. Aku lantas mengambil botol jamu itu dan mengamatinya dengan bingung. "Yash ngasih ini ke gue?"

"Iya. Katanya lo galak banget tadi. Ditambah lo megangin perut terus. Dia pikir lo lagi PMS."

"Astoge!" Kepalaku serasa berasap. "Dari mana dia tahu gue megangin perut?"

"Oh, tadi kami tukaran baju di toilet sekolah distopia. Sebelum balik ke dunianya, dia ngintip dulu ke sini." Ken menyelonjorkan kakinya. Tubuhnya menggeliat. "Ah, gue capek banget!"

"Capek? Emang dari mana? Kok, mau-maunya sih, lo tukaran sama dia? Apa lo nggak takut dihukum Bu Dina? Lo kan udah berani bolos di jam pelajaran beliau."

"Yah, gimana lagi, dia minta tolong sama gue dan gue nggak bisa nolak. Lagian percuma nolak. Soalnya dia itu ulet dan agak gila. Tapi cakep, kan?" Ken meringis.

Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Dihukum Bu Dina kapok, lo!"

Cowok berkulit sawo matang itu mengibaskan tangan. "Nggak mungkin."

"Kok, lo bisa seyakin itu?"

Lihat selengkapnya