Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #5

Bab 5. Nasib Helm Hello Kitty

Senpai-ku datang terlambat. Biasanya dia nggak pernah terlambat. Atau kalau bakal terlambat, dia memberitahu salah satu muridnya lewat WA. Namun, kali ini nggak ada kabar. 

Omong-omong, senpai adalah panggilan untuk orang yang mengajar karate. Sebenarnya, senpai itu berarti kakak senior atau orang yang tingkatannya lebih tinggi dari kami. Sedangkan untuk guru, kami menyebutnya sensei. Karena ekskul karate di sekolahku nggak sepopuler paskibraka, atau ceers, atau bahkan mading, maka pengajarnya pun seadanya—beberapa alumni yang rela bekerja tanpa pamrih. Muridnya pun nggak sebanyak ekskul-ekskul lainnya, hanya ada sekitar selusin tiap pertemuan.

Biasanya, ada dua atau tiga senpai yang mengajar. Namun, ketika kulirik jam yang sudah menunjuk pukul empat kurang seperempat, hanya ada satu senpai yang datang. Namanya Sinpei Agus. Dia sudah bersabuk hitam, Dan satu. Fyi, Dan adalah tingkatan sabuk hitam.

Sinpei Agus berbadan kecil, pendek, berkacamata. Doginya tampak kebesaran. Sekilas, orang akan menganggapnya remeh, bahkan menindasnya. Tetapi jangan salah. Gerakannya sangat cepat, akurat dan lincah. Dia pernah memenangkan piala pada kejuaraan tingkat kotamadya dalam cabang kumite (perkelahian). Biarpun kecil, dia mampu membuat orang lain ketar-ketir.

Setelah aku menutupi helm Yash yang sudah sekarat dengan tas, Senpai Agus menyuruh kami berbaris. Kali ini yang datang hanya sepuluh orang, tujuh orang merupakan murid kelas satu. Semuanya cewek. Mereka masih memakai obi (sabuk) putih. 

Aku berbaris di antara temanku yang memakai obi hijau, sama sepertiku. Tak lama kemudian, seseorang menyelip di sampingku. Bahunya mendorongku ke samping. "Maaf, Senpai, saya telat." 

Suaranya terdengar familiar. Aku menengok. "Yassalam!" pekikku.

"Yash aja, nggak pakai alam," koreksinya nyengir. 

"Ngapain lo ke sini?" Aku mengamatinya. Dia memakai dogi sama sepertiku, bedanya sabuknya sudah cokelat. Aku curiga dia hanya ingin menyamar saja demi mendekatiku, sama seperti kemarin. "Mo muasin mata lo lagi?" 

"Widih, ge-er!" Dia melengos, tampak angkuh. Aku teringat helm yang sudah kurusakkan tadi. Kali ini aku bertekad bakal lebih bersabar dan berusaha bersikap baik padanya. Tetapi rasanya sungguh sulit.

"Sini!" panggil Senpai Agus pada Yash. 

"Osh!" serunya yang menurutku terlalu berlebihan. Dia lantas maju ke samping Senpai Agus, mengencangkan obi, dan menghadap barisan yang berjajar panjang. Beberapa murid kelas satu berbisik, lantas terkikik. Memang, kuakui dia ganteng. Apalagi, kalau disandingkan dengan Senpai Agus, kegantengannya jadi berlipat-lipat. Ditambah dengan dogi, gantengnya jadi berkuadrat-kuadrat. 

"Karena Sinpei Bayu dan Senpai Dion nggak bisa datang, jadi saya sengaja meminta Yashna dari sekolah sebelah untuk membantu," jelas Senpai Agus. "Kalian bisa panggil dia dengan Senpai Yash."

Beberapa anak kelas satu kembali berbisik, juga tersenyum. Pancar senang plus malu tampak dari raut wajah mereka sebelum 'Pei Agus menyuruh kami lari keliling lapangan sebagai pemanasan.

"Gue nggak nyangka kalau lo ikut karate," kata Yash menjajari lariku.

"Masa, sih?" balasku nggak percaya, dengan nada dibuat-buat. "Kok lo bisa kenal Senpai Agus?"

“Mau tahu aja atau mau tahu banget?” balasnya menggoda.

Aku menjawabnya dengan memutar bola mata.

Dia terkikik lalu menjelaskan, "Dulu, waktu ujian kenaikan sabuk kita nggak sengaja ketemu. Terus ngobrol, dan akhirnya selalu barengan kalau ada ujian. Yah, buat penyemangat gitu."

“Oh, ya?” Heleh, batinku. "Sejak kapan lo ikut karate?"

"Sejak kecil."

Heleh lagi, tetapi aku nggak mau komentar. Sebagai ganti, aku mempercepat lajuku. Sialnya, dia bisa mengimbangi. 

"Jangan cepet-cepet larinya, ntar capek," katanya. “Gue nggak mau mijitin, lho!

“Dih!” Aku berjengit. “Siapa pula yang minta lo pijitin?”

Yash terkekeh. "Gue nggak sabar buat ngajarin lo gelut."

Mataku memelotot.

"Apa?" tanyanya dengan tampang polos.

Sabar ... sabar .... Aku menghela napas panjang. Kalau nggak teringat helm Hello Kitty itu, aku sudah menjegal kakinya.

Setelah pemanasan, Senpai Agus memberi aba-aba untuk gerakan dasar seperti gidan-bare (tangkisan bawah), ugi-uke (tangkisan atas), dan berbagai macam zuki (pukulan). Setelah itu, ia membagi kami untuk diajar Kata. Kata merupakan rangkaian gerakan yang memiliki pola dan arah. Kata ada bermacam-macam. Dan setiap macamnya memiliki kesulitan tersendiri. Untuk murid baru, Senpai Agus yang mengajarnya sendiri. Sedangkan untuk yang sabuk berwarna diserahkan kepada Yash. 

Lihat selengkapnya