Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #7

Bab 7. Los Dol

Sumpah, ya, aku sudah membuka hati untuk Yash. Tetapi nyatanya apa, dia malah ghosting. Tahu kan apa itu ghosting? Itu lho, temannya gunting yang suka banting anting-anting. 

Sudah tiga hari dia nggak terlihat. Hari Minggu nggak dihitung, betewe. Di warung tempatnya biasa nongkrong nggak ada, di depan gerbang nggak ada, di genteng SMA Harapan juga nggak ada. Pokoknya berhari-hari aku nggak melihatnya saat sekolah. Padahal biasanya dia ada di mana-mana. 

Seperti orang cengo, setiap datang dan pulang sekolah, aku menengok, mencari-cari batang hidungnya yang nggak tampak. Kadang, aku juga duduk di halte, melewatkan busku hanya untuk menunggu motornya keluar gerbang. Tetapi, semua sia-sia. Rindu? Enggak! Oke, dikit. 

Pada hari Minggu, kuputuskan untuk tidak memikirkannya. Apalagi, kakak Sindi akhirnya jadi memesan souvenir untuk pernikahan. Seperti yang dikatakan oleh sang adik, dia memesan souvenir seharga dua ribu persatuan sebanyak tiga ratus buah. Untuk seharga itu, aku membuatkannya aneka bros, gantungan kunci, dan pouch wadah recehan.

Selama tiga hari aku melembur. Kutargetkan semua harus selesai dalam empat hari. Meski jariku beberapa kali tertusuk jarum dan melepuh terkena lem tembak—karena lagi-lagi melamun memikirkan Yash—aku mengerjakannya dengan semangat. Sindi sudah memberiku uang muka.

Pada Minggu sore, aku lega karena berhasil menyelesaikan pesanan. Kubungkus dengan kotak mika hasil prakaryaku satu per satu, lantas kuhias pita untuk mempercantiknya, tak lupa kufoto dan kuunggah di Instagram sebagai testimoni.

Esoknya, aku sengaja masuk lebih awal supaya dapat bus yang longgar. 

"Wah, cepet banget?" kata Sindi saat kuserahkan plastik besar berisi hasil prakaryaku. Dia sudah menyiapkan sisa bayaran karena sebelumnya telah kuberitahu lewat pesan. Aku melihat uang itu dengan penuh rasa syukur. 

"Makasih, ya," kataku senang. 

"Same-same," sahutnya.

"Sama-sama!" Ara datang mengoreksi. "Lo punya bakat loh, Lun. Nanti gue share di grup, ya? Sapa tahu ada yang mo pesen."

"Ja-jangan!" cegahku.

"Kenapa?" tanya Sindi. "Ini lumayan loh, Lun."

Aku malu, batinku. Tapi, aku hanya bisa menggigit bibir.

Ara menautkan alis, kemudian mengangguk paham. "Mungkin mulut ke mulut dulu aja kali, ya? Lagian, lo pasti nggak punya banyak waktu luang buat bikin, karena masih sekolah. Iya, kan?"

Dia memang teman paling pengertian yang pernah kujumpai. 

Aku tersenyum lantas mengangguk. Dengan begitu, aku segera melesat ke bagian TU untuk membayar uang PKL-ku. Setelah keluar kantor itu, bebanku seolah terangkat. Tak henti-hentinya aku bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Lalu, terbetik dalam benakku bahwa Yash benar-benar membawa sial.

Nyatanya, sejak pemuda itu jauh, keberuntungan seolah mulai datang. Keyakinan itu bertambah saat aku kembali ke kelas. Ada pesan masuk, dari nomor baru yang memesan buket bunga flanel. Senyumku semakin lebar. Meski begitu, hatiku terasa kosong, seolah ada sesuatu yang hilang.

***

Bel pulang sekolah adalah bunyi terindah bagi setiap murid SMK Harapan. Beberapa murid memilih langsung pulang, beberapa lagi masih menongkrong di depan gerbang, sekadar kongkow-kongkow atau menumpang wi-fi SMA Harapan. Sekolah distopia mana ada wi-fi? Meski ada proyektor, nggak jarang para guru lebih memilih menyuruh muridnya menulis di papan sebagai hukuman. Mereka bisa kehabisan akal menghukum murid-murid jika teknologi semakin berkembang.

Bak pinang dibelah dua, suasana kedua sekolah itu sama. Hanya saja, sisi satu pinangnya terlihat lebih busuk dari sisi lainnya. Siswa yang keluar dari sisi pinang yang matang sempurna tampak mengendarai motor sport, lengkap dengan helm dan jaket kulit. Mereka terlihat gagah, seperti geng motor di sinetron yang ditonton ibuku setiap malam. Aku yakin Yash pasti memiliki motor yang serupa, atau malah mobil. Namun, aku nggak tahu alasannya memilih menggunakan motor bebek sebagai kendaraan.

Siswa yang keluar dari sisi satunya juga naik motor. Bedanya, satu motor untuk 3, bahkan 4 orang, tanpa helm, tanpa jaket, suara knalpotnya bising pula. 

Begitu juga dengan siswa yang nongkrong. Siswa SMA Harapan menongkrong menunggu jemputan. Setelah sopir pribadi mereka datang, satu persatu mulai bubar. Berbeda dengan siswa SMK Harapan yang bubar setelah Pak Satpam mengusir mereka.

Karena ingin segera mengerjakan pesanan buket bunga flanel, aku memilih langsung pulang saja. Halte tampak lumayan penuh saat itu. Jadi, aku memilih kloter berikutnya daripada harus berdiri di sepanjang perjalanan nanti.

Panas terasa menyengat saat aku memasuki bus. Baru berjalan sepuluh meter, alat transportasi umum itu berhenti. Rupanya ada seseorang yang tertinggal. Sembari menunggu, aku melirik kaca jendela. Di luar, tampak Yash dan teman-temannya sedang bermain ayunan. Namun, ayunan itu lain dari ayunan biasanya.

Jadi, di samping sekolah utopia, di sisi yang sama dengan jalan raya, ada selokan yang cukup lebar, yang memisahkan tembok sekolah dengan trotoar. Banyak pohon besar yang tumbuh di samping selokan, salah satunya pohon kersen, tempat Yash dan teman-temannya kini berada. Satu dahannya patah, menjulur ke bawah. Yash dan teman-temannya—termasuk Ken—bergantian mengganduli dahan tersebut, mengayun dari sisi jalan ke sisi seberang selokan, berlagak layaknya Tarzan di hutan.

Lihat selengkapnya