Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #8

Bab 8. Sepanjang Jalan Kenangan

Aku lupa mengaktifkan lagi ponselku. Hingga pagi, seratus pesan menunggu dibaca. Semuanya dari satu nomor, dengan kata yang sama, kangen. Benar-benar kurang kerjaan.

Saat aku tiba di halte keesokan harinya, Yash dengan cengirannya yang bloon sudah menunggu di atas jok motor bebek pink. Ketika melihatku muncul dari gang, dia memainkan alis.

"Yuk!" katanya mengulurkan helm. Kali ini, helm Bogo warna salem dengan gambar beruang lucu. Kacanya cembung.

Aku nggak menolak tawarannya. Kuterima helm itu, lalu duduk di jok belakang. Dia juga nggak memprotes saat tanganku mencengkeram tepi pinggang untuk pegangan. Laju motornya pun nggak ugal-ugalan, malah terlalu pelan.

"Loh, mau ke mana?" tanyaku saat dia berbelok di perempatan, keluar dari jalur yang biasanya dilewati bus saat aku ke sekolah.

"Ke sekolah, dong. Masa mau bolos? Emang lo mau gue ajak bolos?" tanyanya balik.

Aku mengenyit. "Tapi kok belok? Kalau mau ke sekolah, seharusnya lurus aja."

"Mumpung lo mau gue bonceng, jadi ke sekolahnya muter."

Aku mendengus. "Nggak nyia-nyiain kesempatan banget, ya, lo?"

"Dia menoleh singkat, memamerkan senyumnya yang celengekan. "Iya, dong."

Tangan kirinya melepas stang, kemudian mengelus tangan kananku. Aku ingin mengelak, tetapi tidak jadi. Aku teringat kata los dol kemarin.

Pelan-pelan, tanganku maju hingga saling tertaut, memeluk tubuh Yash. Dari spion, kulihat cowok itu mengulum senyum gembira. Wajahnya tersipu. Dia lantas berkata, "Nanti cium, ya? Di sini." Dia menunjuk pipi.

Kucubit perutnya. "Dikasih hati minta jantung. Tuman!"

"Oh, ya? Lo mau ngasih hati lo ke gue? Jadi, kita resmi pacaran sekarang?"

"Dih." Kucubit lagi perutnya. "Apaan? Nggak bisa gitu, dong. Enak aja!"

Dia terkekeh, "Lo tahu nggak kenapa beberapa hari kemarin gue menjauh?"

"Kenapa?"

"Pakar Cinta bilang, gue perlu menjauh supaya lo sadar kalau nggak ada gue, hidup lo terasa hampa," jawabnya.

"Dih! Gue berani taruhan bahwa yang ngasih nomor gue ke elo juga si Pakar Cinta," sahutku.

"Kok, tahu? Lo ngintip gue, ya? Nggak perlu ngintip, gue buka. Gue obral malah."

Aku terkikik, "Ogah! Bisa-bisa mata gue teracuni."

"Teracun oleh cinta."

Aku tertawa. "Udah, gue nggak tahan denger rayuan lo yang norak."

Dia terkekeh, lantas kembali mengelus punggung tanganku. "Lo tahu nggak kenapa motor gue warna pink?"

"Mungkin jiwa lo pinki boy kali," jawabku asal.

Dia menepuk lembut punggung tanganku, "Bukan. Gue emang nyiapain nih motor dari dulu, cuma buat boncengin lo."

Mulutku melengkung, "Masa? Dari kapan?"

"Gue udah nyuapin ini dari dulu banget, pas masih bayi, bahkan sebelum lahir. Karena gue tahu kalau lo itu, Tuhan ciptakan dari tulang rusuk gue."

Aku memprotes, "Kalau ngegombal mbok ya yang logis."

Dengan puitis dia menjawab, "Cinta itu emang nggak logis. Seperti—"

"Udah-udah, nyetir aja yang becus. Jangan dilepas stangnya. Gue mau selamat sampai tujuan," kataku. Kusandarkan kepala ke punggungnya.

Dia memberengut sekejap lantas tersenyum. Yash juga menurut. Dia menarik tangannya dari tanganku.

Lihat selengkapnya