Hati-Hati Beda Level

IyoniAe
Chapter #11

Bab 11. Kemarahan Dalam diam

Yash mengabaikanku. Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Pesanku nggak dibalas, bahkan di-read pun enggak. Aku mencoba menelepon, tetapi nggak diangkat. Paginya, aku menunggu di halte, sembari mengawasi motor bebek pink yang lewat. Akan tetapi, sampai bus kloter terakhir datang, dia nggak datang. Mungkin, aku melewatkannya tadi.

Di sekolah, aku juga kurang fokus. Akibatnya, Bu Dina memarahiku. Beliau juga mengimbau murid-murid agar segera mengumpulkan proposal pengajuan PKL, mengingat hari ini adalah hari terakhir pengumpulan. Pengajuan proposal itu sebenarnya hanya untuk siswa yang menginginkan tempat khusus untuk PKL. Sementara siswa yang nggak mengajukan proposal artinya mau ditempatkan di mana saja.

Karena jurusan yang kupilih adalah Bisnis dan Managemen Pemasaran maka sudah pasti aku bakal ditempatkan di supermarket-supermarket yang ada.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan proposal ke sebuah perusahaan ritel yang dekat dengan rumah. Namun, belum kucetak. Aku masih menyimpannya di flashdisk milik Ken yang dulu digunakan untuk menyimpan tugas kelompok. Karena aku dapat bagian edit, maka flashdisk itu dipinjamkan padaku. Kuedit tugas, sekalian membuat proposal di warnet. Setelah selesai kukembalikan lagi pada Ken. Aku lupa memintanya lagi untuk menyetak proposalku. 

"Ken, Yash masuk nggak, sih?" tanyaku disela-sela pergantian pelajaran.

Cowok berkulit sawo matang itu menoleh. "Lah, mana gue tahu. Lo kan pacarnya."

Aku memutar bola mata. "Tadi—"

"Gimana kemarin? Kalian nonton apa?" potong Ara. "Pasti anuan, ya?" godanya menyenggol bahuku.

"Apaan, sih? Enggak."

"Ciye ... malu-malu, nih, ye!" tambah Ken.

"Enggak. Malahan kayaknya dia marah sama gue," kataku.

Mereka mengernyit. "Lah, kok bisa?" tanya Ken.

"Yash lo gampar?" tanya Ara hampir bersamaan.

"Eggak!" 

"Trus, why?" tanya gadis tomboy itu lagi. "Lo plintir anunya?"

"Ara, stop! Gue ngilu setiap denger imajinasi lo yang di luar nalar itu," Ken memprotes.

"Bukan. Jadi gini .…" Mereka berdua memperhatikanku. "Kemarin—"

"Sstt ... Pak Guru datang." Teman sebangku Ken memperingatkan. Mereka mendesah, lantas menunda rasa ingin tahunya selama satu jam pelajaran penuh. Ketika bel istirahat berbunyi, mereka langsung menuntut jawaban.

"Gimana?" tanya mereka serentak.

Aku menceritakan kejadian kemarin pada mereka. Bagaimana kami memilih film, bagaimana Yash akhirnya meninggalkan bioskop dan muntah, bagaimana kami pulang kehujanan, bagaimana dia marah karena tak kuizinkan mampir ke rumah. Respon Ara hanya mengangguk-angguk, tetapi respon Ken lain. Dia kerap mendecak, mendesah, memprotes, dan bilang seharusnya aku begini, seharusnya aku begitu hingga Ara menyela dan menyuruhnya diam karena memotongku.

Setelah selesai bercerita, mereka kompak bertanya, "Kenapa lo nggak izinin dia ke rumah?"

"Gue takut kalau ibu gue tahu." Dalam hati aku meminta maaf pada Ibu atas kebohonganku.

"Ibu lo galak?"

"Ya, gitu, deh," kataku berpaling, nggak berani menatap mata mereka.

"Trus sekarang, Yash nggak bisa dihubungi?" tanya Ara melirik ponsel di tanganku.

Aku mengangguk. 

"Coba gue hubungi." Dengan perhatian, Ken mengusap layar ponselnya, mengetik sesuatu lantas menunggu. "Centang dua doang," katanya memamerkan pesan WA yang belum dibaca.

"Jadi?" tanyaku menuntut kesimpulan.

"Mungkin dia sakit," cetus Ara. "Coba telepon Yash."

"Nggak diangkat," ucapku. Aku menggigit bibir dengan cemas.

"Apa ada hal lain yang lo khawatirin?" tanya Ara padaku.

Aku menggeleng.

"Jujur sama gue, Lun." Gadis tomboy itu menekan bahuku. Matanya menatapku lurus-lurus.

"Gue takut Yash salah paham," kataku akhirnya. "Ceysa motret gue sama cowok lain. Tapi sumpah, gue nggak ada hubungan apa-apa sama cowok itu."

Lihat selengkapnya