Hati Yang Malpraktik

Jejak Cerita
Chapter #1

Bab 1 Indikasi Malpraktik Hati

"Pasien di bed tiga menolak ditangani Dokter Gilang. Katanya, penjelasan Dokter tadi siang terlalu kaku dan bikin tensi beliau makin naik," Lusiana menyodorkan berkas laporan komplain pasien dengan gerakan taktis, membuat ujung jas putih Gilang sedikit terkibas.


Matanya menatap lurus, mengabaikan fakta bahwa pria kaku di depannya ini adalah orang yang berbagi ranjang dengannya setiap malam.


Lusiana Putri, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang kini menjabat sebagai staf Humas Rumah Sakit ini, selalu tahu cara menyembunyikan badai di balik senyum ramah profesionalnya. "Jadi, mau Dokter sendiri yang minta maaf, atau saya yang harus pakai bahasa diplomasi lagi buat meredam amarah keluarga pasien?"


Gilang tidak langsung menjawab. Ia menerima map tersebut, membolak-balik kertas laporan dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menguji kesabaran Lusi. "Saya hanya menyampaikan diagnosis sesuai literatur medis, Lusi. Tidak ada yang salah dengan fakta bahwa pasien tersebut memang kurang menjaga pola makan." Suara Gilang terdengar bariton, berat, dan menyebalkan seperti biasa. Pria itu mencondongkan tubuh, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya mengalahkan bau tajam antiseptik koridor IGD. "Lagipula, kenapa kepala Humas sepertimu harus turun tangan langsung ke IGD? Kursi empuk di ruanganmu sedang direnovasi?"


"Tugas Humas itu menyelesaikan krisis komunikasi di seluruh area rumah sakit, Dokter Gilang yang terhormat," Lusi melipat kedua tangannya di dada, membalas tatapan Gilang tanpa berkedip sedikit pun. Keras kepala pria ini memang belum berubah sejak pertama kali mereka bertemu di komite medis kampus dulu. Dunya Lusi kagum karena Gilang bisa menyelesaikan segala jenis krisis klinis dalam sekejap, namun setelah menikah, Lusi baru sadar bahwa sifat solutif itu berakar dari ego yang setinggi langit dan ketidakmampuan untuk berkompromi. "Termasuk mencegah Dokter membuat pasien serangan jantung karena cara penyampaian Anda yang lebih mirip seperti membaca teks proklamasi daripada menenangkan orang sakit."




Sebelum Gilang sempat membalas, seorang pasien paruh baya dengan perban di kepala tiba-tiba menyembul dari balik tirai pembatas, memotong konfrontasi dingin di antara suami istri tersebut. "Mbak Lusi Humas, ya? Tolong sampaikan ke manajemen, obat pusingnya manjur, tapi tolong dokternya diganti saja. Mukanya galak banget, saya lihat langsung makin pusing, berganti jadi serangan asma."


Lusiana langsung mengubah ekspresinya secepat kilat, memasang senyum paling manis yang ia miliki sambil menepuk pelan bahu sang pasien. "Aduh Ibu, mohon maaf atas ketidaknyamanannya, ya. Kalau soal muka Dokter Gilang yang kaku seperti piring pecah itu, abaikan saja. Anggap saja itu bonus ujian kesabaran sif siang dari kami."


Gilang hanya mampu mendengkus pelan, memutar bola matanya melihat bagaimana kemampuan komunikasi Lusi selalu berhasil menjinakkan pasien paling ajaib sekalipun di rumah sakit ini.


Ketegangan profesional itu mendadak bergeser menjadi kecanggangan yang pekat saat sebuah langkah kaki yang sangat mereka kenal terdengar mendekat dari arah pintu masuk utama.


Ayah dan Ibu Lusi berjalan berdampingan, membawa sekotak makanan hangat dengan senyum yang terlalu rapi, tipe senyum yang sejak kecil selalu dipelajari Lusiana sebagai topeng untuk menutupi keheningan panjang di rumah mereka. "Wah, menantu Ibu sibuk sekali hari ini sampai tidak sempat angkat telepon," ujar Ibu Lusiana sambil meletakkan kotak bekal di meja administrasi, pandangannya beralih dari Gilang ke Lusiana dengan binar menuntut yang tersamar.


Ayah Lusiana berdiri di belakang, berdeham pelan lalu berbicara seperlunya tanpa emosi yang jelas. "Gilang, jaga kesehatanmu. Jangan sampai Lusi yang repot kalau kamu sakit."


Gilang langsung mengubah pembawaannya, membungkuk hormat dengan kesopanan yang sempurna layaknya menantu ideal di drama televisi. "Iya, Yah, Bu. Maaf tadi ponsel saya tinggal di ruang operasi. Lusi selalu mengingatkan saya untuk makan tepat waktu kok." Gilang mengulurkan tangannya, melingarkannya di pinggang Lusiana dengan gerakan yang tampak begitu protektif dan mesra di depan mertuanya.



Lihat selengkapnya