Hati Yang Malpraktik

Jejak Cerita
Chapter #2

BAB 2 Diagnosis Tak Terduga

Nama di map hitam itu seolah memotong pasokan oksigen di sekitar Lusiana, memaksa otaknya berputar cepat memanggil memori masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam.


Suster yang berdiri di depan mereka langsung merapatkan map ke dadanya, menatap Gilang dengan sorot mata cemas yang tertahan. "Dokter Gilang, pasien di VIP empat itu sudah mulai tidak sabar. Barusan beliau komplain karena AC kamarnya dibilang kurang dingin, padahal suhunya sudah enam belas derajat," lapor suster itu dengan nada setengah berbisik, memecah keheningan mencekam di koridor lantai empat.


Gilang melirik Lusiana yang mendadak pucat, lalu merebut map hitam tersebut dengan satu sentakan tenang. "Biar saya yang tangani, Sus. Siapkan saja peralatan standar pemeriksaan di dalam kamar," perintah Gilang dingin, langsung melangkah lebar memimpin jalan tanpa menunggu respons istrinya lagi.


Lusiana terpaksa mengekor di belakang Gilang, melangkah masuk ke dalam ruang VIP nomor empat dengan perasaan campur aduk yang sulit didefinisikan. Di atas ranjang rumah sakit yang mewah, seorang pria dengan kemeja flanel yang kancing atasnya terbuka sedang bersandar santai sambil memainkan ponsel pintarnya.


Raditya menoleh begitu pintu terbuka, langsung menyunggingkan senyum lebar yang sangat familier bagi Lusiana, tipe senyum percaya diri yang tidak berubah sejak masa kuliah mereka dulu. "Wah, akhirnya datang juga pasangan medis paling hits abad ini," sapa Raditya dengan nada yang renyah, sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit yang membutuhkan pertolongan darurat.


Gilang berdiri di tepi ranjang, langsung memasang stetoskop di telinganya dengan wajah kaku tanpa minat untuk berbasa-basi. "Bisa kita mulai pemeriksaannya, Saudara Raditya? Bagian mana yang terasa sakit?"






Raditya terkekeh pelan, menurunkan ponselnya lalu menatap Lusi yang masih mematung di dekat pintu masuk dengan tatapan jenaka. "Santai dong, Dokter Gilang. Saya ke sini cuma mau periksa lambung, bukan mau diinterogasi polisi militer." Tatapan Raditya beralih sepenuhnya pada Lusiana, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya menggoda yang langsung membuat tensi di ruangan itu meningkat. "Lusi, kamu makin anggun saja ya sejak jadi staf Humas. Ingat tidak, dulu waktu di kantin FISIP Unpad, kita bahkan tidak saling kenal?"


Lusiana berdeham canggung, mencoba mempertahankan profesionalismenya di depan sang suami yang kini mendengarkan percakapan mereka dengan gerakan tangan yang tertahan pada tensimeter. "Radit, tolong fokus pada pemeriksaan medis dulu. Kejadian di kantin itu sudah lama sekali."


"Bagaimana saya bisa lupa, Lus? Waktu itu saya lagi pusing mikirin tugas akhir, tiba-tiba anak Ilkom ini datang menghampiri saya yang lagi duduk sendirian di pojokan kantin sambil makan ayam goreng," Raditya tertawa lepas, mengabaikan tatapan tajam Gilang yang mulai memeriksa denyut nadinya dengan tekanan agak kuat. Radit meringis sedikit, tapi tawanya belum hilang saat kembali menatap Lusi. "Waktu kamu duduk di depan saya sambil bawa piring ayam goreng juga, saya langsung mikir, apa ini yang namanya jodoh? Tapi ya belum tentu juga sih, perihal jodoh kan cuma Allah SWT yang tahu, kita manusia cuma bisa berikhtiar dan berdoa, iya kan, Dokter Gilang?"


Gilang melepaskan manset tensimeter dari lengan Raditya dengan suara robekan perekat yang terdengar kasar di dalam kamar yang sunyi itu. "Tekanan darah Anda normal, Saudara Raditya. Tapi kalau Anda terus mengoceh tentang ayam goreng masa lalu, saya khawatir asam lambung Anda akan makin naik," tukas Gilang dengan nada suara yang bergetar menahan jengkel.


Lusiana melangkah maju, mencoba menengahi konfrontasi terselubung di antara kedua pria yang memiliki sifat keras kepala yang sama besar tersebut. "Radit, kalau resep obatnya sudah keluar, lebih baik kamu segera istirahat agar keluhan lambungmu tidak makin parah."

Lihat selengkapnya