Hati Yang Malpraktik

Jejak Cerita
Chapter #3

Bab 3 Efek Samping Bayangan

Langkah tergesa-gesa dari arah lift langsung memotong konfrontasi dingin di antara suami istri itu. Pria paruh baya dengan setelan jas necis bermotif sulam asimetris, Profesor Kalandra Wistara, melangkah lebar menghampiri mereka dengan senyum yang terlalu lebar untuk ukuran seorang direktur utama rumah sakit. "Nah, ini dia dua aset terbaik saya sedang berkumpul di koridor VIP," seru Profesor Kalandra, suaranya yang renyah menggema, memecah ketegangan pekat yang tadi sempat mengunci Gilang dan Lusi. Beliau langsung menepuk pundak Gilang dengan akrab sebelum melirik Lusi penuh arti. "Gilang, Lusi, kalian berdua sudah bertemu dengan Raditya di dalam, kan? Tolong pastikan pelayanan untuk dia dibuat sehalus mungkin, jangan sampai ada cacat komunikasi."

Lusi berusaha menata kembali detak jantungnya yang sempat berantakan akibat kalimat menggantung Gilang tadi, lalu memasang senyum profesional andalannya di hadapan sang direktur. "Sudah, Prof. Administrasi awal dan penanganan komplain kamarnya sudah saya atasi secara personal," jawab Lusi yang santai namun tetap hormat.

Profesor Kalandra mengangguk puas, membetulkan letak kacamata frameless miliknya yang tampak sangat trendi. "Bagus, Lusi. Soalnya Raditya ini bukan cuma pasien biasa, perusahaan media miliknya baru saja sepakat buat mendanai paviliun riset baru kita. Jadi, kalau dia butuh apa-apa, kamu yang harus maju paling depan sebagai jembatan Humas."

Gilang yang sejak tadi diam dengan wajah lempeng akhirnya membuka suara, menyiratkan keberatan yang dibungkus formalitas medis. "Prof, untuk urusan klinis lambungnya, saya sudah atur agar suster membatasi interaksi non-medis di kamar empat. Pasien butuh ketenangan, bukan kunjungan korporat."

Profesor Kalandra langsung tertawa lepas, mengibaskan tangannya di udara seolah menganggap kekhawatiran Gilang sebagai angin lalu. "Aduh Gilang, kamu ini kaku sekali jadi dokter, persis seperti komputer kurang oli. Raditya itu tipikal anak muda yang dinamis, dia tidak akan stres hanya karena diajak mengobrol oleh staf Humas secantik Lusi. Ayo, ikut saya masuk sebentar, saya mau memastikan sendiri kondisinya."

Mereka bertiga akhirnya melangkah kembali ke dalam kamar VIP nomor empat, di mana Raditya ternyata sedang sibuk merayu suster yang sedang mengganti botol infus barunya. "Suster, ini cairannya tidak bisa diganti rasa jeruk saja ya? Biar lambung saya yang lagi perih ini agak beralih fokusnya," seloroh Raditya dengan kedipan mata jail yang membuat suster muda itu tersipu malu sambil merapikan selang. "Ih, Mas bisa saja, mana ada cairan infus rasa jeruk," balas suster itu pelan sembari buru-buru berbalik begitu melihat rombongan direktur utama masuk ke dalam kamar. Raditya langsung memperbaiki posisi duduknya begitu melihat Profesor Kalandra, menyapa pria paruh baya itu dengan lambaian tangan santai. "Wah, Prof Kalandra sampai turun gunung begini, saya jadi merasa seperti kepala negara yang sedang dirawat."

Profesor Kalandra terkekeh, langsung mengambil tempat di kursi samping ranjang Raditya dengan gaya santai yang sangat kontras dengan pembawaan kaku Gilang. "Kamu ini bisa saja, Radit. Bagaimana fasilitas kamarnya? Sudah pas atau perlu saya pindahkan ke lantai teratas yang ada kebun pribadinya?"

Raditya melirik Lusi yang berdiri di belakang Gilang, lalu tersenyum lebar penuh intrik yang sulit ditebak arahnya. "Kamarnya sudah oke kok, Prof. Apalagi staf Humas rumah sakit ini sangat responsif, jadi saya betah-betah saja kalau harus dirawat agak lama di sini."

Gilang yang mendengar hal itu langsung mengeratkan pegangannya pada pulpen di saku jasnya, matanya menatap tajam ke arah Raditya tanpa bersuara sedikit pun.

Begitu Profesor Kalandra dan Raditya tenggelam dalam obrolan bisnis yang kasual, Lusi memanfaatkan momen itu untuk bergeser perlahan menuju pintu keluar, namun Gilang ternyata langsung mengikuti pergerakannya. Di luar koridor yang kembali sepi, Lusi membalikkan badan dengan cepat, mendapati suaminya sudah berdiri tepat di depannya dengan jarak yang sangat minim. "Bisa berhenti mengikuti aku seperti bayangan tidak, Mas?" bisik Lusi dengan nada jengkel yang tertahan, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Gilang. "Dulu di kampus, tujuan aku memarahimu dengan ekspresi paling seram itu supaya kamu merasa takut kepadaku dan berhenti menjailiku. Tapi apa hasilnya? Kamu sama sekali tidak takut, yang ada malah sering mengikutiku dari belakang sampai sekarang."

Gilang menatap Lusi dengan sorot mata yang mendadak melunak, kehilangan seluruh keangkuhan formalitas medisnya untuk beberapa detik yang krusial. Pria itu condong maju, mengunci pandangan Lusi dengan intensitas yang membuat napas perempuan itu tertahan di tenggorokan. "Kamu pikir saya mengikutimu karena iseng, Lusi?" tanya Gilang yang rendah, terdengar namun sarat dengan tekanan emosi yang pekat. "Satu-satunya alasan kenapa saya tidak pernah takut dengan ekspresi serammu itu, karena saya tahu kamu hanya sedang memakai topeng untuk menyembunyikan ketakutanmu sendiri."

Tepat ketika Lusi hendak membalas kalimat menohok itu, pintu kamar VIP terbuka, dan Profesor Kalandra melangkah keluar sambil membawa ponselnya yang berdering, menyisakan ketegangan romantis yang makin menggantung di antara suami istri tersebut.

Lihat selengkapnya