HATIKU DICURI MAS OJOL

Dinny Febriyanti
Chapter #1

MAS OJOL DATANG TERLAMBAT

Sore di Alam Barajo selalu punya cara sendiri bikin orang malas gerak. Udara lembap, angin membawa aroma tanah dan asap bakaran dari warung pisang goreng di ujung gang.

Rara duduk di depan meja kerja, kacamata sedikit melorot, wajahnya kusut menghadapi layar laptop dan printer yang tiba-tiba mati total. Printer itu cuma berdengung pendek, lalu diam seolah ngambek.

"Kamu kenapa lagi, sih?" desah Rara. Ia mengetuk-ngetuk bodi printer dengan jari telunjuk. "Baru minggu lalu aku beliin tinta, jangan drama."

Tak ada reaksi.

Hasil riset artikel yang harus ia cetak untuk referensi bukunya berhenti di halaman 36. Deadline mendekat, dan printer mogok seperti punya misi pribadi menjatuhkannya.

"Bagus. Dunia kompak banget ngetes kesabaranku."

Rara bersandar di kursi, menatap langit-langit. Jam di dinding menunjukkan pukul empat lewat dua belas. Biasanya di jam segini ia udah santai, minum kopi susu gula aren sambil scroll berita, bukan berdebat sama mesin.

Ia menghela napas lalu buka aplikasi ojol di ponsel. Tanpa mikir lama, jarinya otomatis pesan makanan langganan: kopi susu gula aren dan pisang bakar keju coklat dari kedai kecil di seberang perumahan. Di kolom catatan ia tulis: "Kopinya jangan terlalu manis, pisangnya mateng tapi jangan gosong."

Beberapa detik kemudian notifikasi muncul.

Driver: Damar – Honda Beat Hijau. Estimasi tiba: 10 menit.

Rara menatap nama itu dan tersenyum tipis. Damar lagi. Entah kenapa, dari sekian banyak driver di Alam Barajo, aplikasi selalu ngasih dia orang yang sama.

Sepuluh menit lewat. Lima belas.

Rara menatap jam, alisnya naik satu. Ia hampir mengetik pesan protes saat notifikasi masuk lebih dulu.

Damar: "Maaf ya, Mbak Rara. Tadi ban bocor di Simpang Rimbo. Saya ganti dulu, baru lanjut."

Rara: "Oh, pantes. Saya kira tersesat di tengah kota."

Damar: "Hehe, ndak nyasar kok. Cuma ban sama hati aja yang kempes."

Rara: "Duh, gombalan ojol sore-sore."

Damar: "Bukan gombal, Mbak. Cuma laporan kondisi jalan dan perasaan."

Rara terbahak sendiri. Kalau semua driver se-lucu ini, mungkin stress deadline bisa sembuh setengahnya.

Dua puluh menit kemudian, suara motor berhenti di depan pagar. Rara keluar, masih dengan daster bergambar kucing yang udah pudar warnanya. Di depan rumah, Damar berdiri sambil melepas helm. Wajahnya sedikit berkeringat, tapi senyum ramahnya seperti biasa.

"Maaf telat, Mbak. Selain ban kempes, jalannya becek di perempatan. Jadi telatnya double kill."

"Nggak apa-apa, Mas. Saya juga belum jadi kaya gara-gara printer rusak," sahut Rara sambil menerima kantong plastik.

Damar menoleh ke dalam rumah, penasaran. "Printer rusak?"

"Iya. Mati total. Padahal saya lagi butuh banget nyetak beberapa artikel."

"Coba saya nengok boleh?"

Rara mengerutkan dahi. "Mas bisa benerin printer?"

"Nggak janji, tapi bisa nyobain."

Ia tertawa kecil. "Yaudah, daripada saya lempar ke Sungai Batanghari."

Mereka masuk.

Printer ada di meja dekat jendela, dikelilingi tumpukan kertas dan gelas kopi bekas. Damar menaruh helm di kursi, lalu jongkok di depan printer, menelusuri kabel dan colokan.

Lihat selengkapnya