HATIKU DICURI MAS OJOL

Dinny Febriyanti
Chapter #2

Kopi Dingin dan Printer Ngeyel

Sore di Alam Barajo tidak pernah benar-benar sejuk. Matahari masih menyelinap dari sela genting, udara lembap, dan kipas angin di ruang kerja Rara cuma muter angin panas. Di meja, printernya mulai bunyi krak-krak pelan, tanda sebentar lagi mau drama.

"Please, jangan mulai lagi, Prin. Aku belum selesai nyetak satu bab pun," gumam Rara sambil menekan tombol print sekali lagi.

Printer bergeming. Lampu indikator menyala merah, seolah berkata: aku capek.

Rara bersandar di kursi, menatap layar laptop. Di situ masih terbuka file berjudul 'Bab 2 – Kehidupan Cinta yang Tidak Romantis.'

Ia menghela napas. "Lucu banget. Aku nulis tentang cinta, tapi bahkan printerku menolak kerja sama."

Perutnya tiba-tiba bunyi. Ia melirik jam, pukul empat lewat sepuluh.

Waktunya kopi dan camilan penyelamat hari.

Tanpa pikir panjang, ia buka aplikasi ojol dan mengetik pesanan yang sama seperti biasa: kopi susu gula aren dan pisang bakar keju cokelat dari kedai langganannya.

Catatan khusus: 'kopinya jangan terlalu manis, pisangnya jangan gosong.'

Ia senyum kecil. "Kalau ini gagal juga, mungkin semesta suruh aku puasa rasa manis."

Tak lama, notifikasi masuk:

Driver : Damar – Honda Beat Hijau. Estimasi tiba : 15 menit.

Rara spontan terkekeh. "Lagi-lagi Mas Damar. Apa aplikasinya udah mengira kami pasangan paket hemat, ya?"

Lima belas menit berlalu.

Printer masih diam, tapi Rara sudah pasrah. Ia membuka tab lain, mencari referensi, mencoba pura-pura produktif.

Lalu ponselnya bergetar.

Damar : "Mbak Rara, maaf ya, barista-nya panik. Es batu abis, jadi nungguin kiriman dari sebelah."

Rara : "Wah, gawat. Saya hampir minum kopi suhu ruangan, dong."

Damar : "Tenang, Mbak. Saya jagain biar tetap manis."

Rara menggigit bibir menahan tawa. "Mas ini, tiap chat kayak lagi audisi stand-up."

Damar : "Daripada audisi sabar di jalan."

Beberapa menit kemudian suara motor berhenti di depan pagar.

Rara keluar. Damar berdiri sambil membawa tas delivery di punggung dan dua cup plastik kopi yang masih berembun.

"Permisi, Mbak Rara. Kopinya selamat, cuma telat lima menit karena baristanya kelabakan."

Rara menerima pesanan. Gelas plastik dingin terasa menempel di telapak tangannya.

"Masih jauh lebih cepat dari printer saya. Itu udah lima jam ngambek."

Damar melirik ke dalam rumah. "Boleh saya lihat lagi?"

Lihat selengkapnya