HATIKU DICURI MAS OJOL

Dinny Febriyanti
Chapter #3

Teori Cinta Menurut Rara

Ada tiga hal yang menurut Rara bisa bikin manusia kehilangan akal sehat, yaitu diskon besar-besaran, utang teman, dan cinta. Dua yang pertama masih bisa diselamatkan pakai kalkulator dan niat tobat.

Yang terakhir? Tidak bisa.

Itulah kenapa sore itu, sambil mengunyah kacang goreng sisa perjuangan saat ia amrathon nonton serialĀ action, Rara menulis teori baru di jurnal pribadinya. Judul besar di halamannya:

TEORI CINTA MENURUT RARA NURFITRI

(Sebuah panduan untuk tetap waras di dunia penuh drama percintaan.)

"Teori pertama," gumamnya sambil menulis, "cinta bikin orang lupa grammar."

Dia menambahkan contoh di bawahnya:

"Kamu dan aku adalah adalah kita."

Rara menatap hasil tulisannya, lalu tertawa kecil.

"Udah jelas salah, tapi kalau lagi bucin, semua kata terasa puitis."

Belum sempat lanjut teori kedua, suara motor berhenti di depan rumah.

Bukan motor sembarangan . Suaranya familiar, bikin Rara otomatis berhenti menulis.

"Jangan bilang..."

Tiga ketukan pelan terdengar di pagar.

"Permisi, Mbak Rara..."

Rara menepuk jidat. "Oke, semesta, kamu ini hobi banget bercanda, ya."

Dia keluar rumah dengan langkah setengah malas, setengah penasaran.

Dan benar saja, Damar berdiri di depan pagar dengan helm masih di kepala, bawa kantong kertas berisi dua cup plastik berembun.

"Mas Damar?"

"Ya, Mbak. Sore. Saya tadi lewat kedai kopi langganan Mbak. Karena udah hafal banget pesanan Mbak tiap sore, jadi sekalian saya beliin. Takutnya Mbak lagi nulis, lupa ngopi."

Rara melipat tangan di dada, pura-pura sinis.

"Mas hafal banget pesanan saya?"

Damar nyengir. "Ya gimana, Mbak. Setiap kali notifikasi order masuk atas nama Rara Nurfitri, isinya pasti kopi gula aren dan pisang bakar keju cokelat. Saya udah bisa tebak sebelum buka aplikasinya."

"Mas ngomongnya kayak hafal tanggal ulang tahun."

"Belum, tapi bisa diusahain."

Rara berusaha menahan senyum, tapi gagal.

"Mas ini kayaknya gak tahu cara diem yang baik, ya."

"Kalau diem, takutnya Mbak gak nulis buku baru."

Mereka duduk di bangku depan rumah.

Lihat selengkapnya