Notifikasi WhatsApp berbunyi bertubi-tubi sejak pagi. Grup "Jomlo Bahagia", tempat berkumpulnya empat perempuan yang katanya strong independent woman, tapi tiap malam saling tanya, "Kenapa cowok makin lama makin aneh, ya?
Rara menatap layar ponsel sambil menyeruput kopi. Suara notifikasi itu seperti alarm yang menandai: hidup sosialnya masih berfungsi, meskipun kadang isinya bukan solusi.
Satu demi satu pesan masuk.
Ayu: "Aku mimpi menikah sama seleb Korea. Kira-kira artinya apa, ya?"
Nadia: "Artinya kamu butuh liburan, bukan pelaminan."
Mira: "Ngomong-ngomong, Ra, kamu kok akhir-akhir ini jarang aktif di grup? Ada apa nih?"
Ayu: "Jangan-jangan dia lagi dekat sama seseorang 👀"
Rara menatap layar sambil menghela napas.
"Dan pagi ini resmi dimulai dengan fitnah manis," gumamnya.
Ia mengetik pelan, jari-jarinya bergerak seperti malas menanggapi gosip yang sudah bisa ditebak arah akhirnya.
Rara: "Aku lagi sibuk kerja. Bukan karena cinta."
Mira: "Kerja apa? Nungguin pesan dari Mas Ojol, ya?"
Ayu: "Iya tuh, yang kemarin kamu bilang bikin printer kamu tiba-tiba nyala lagi?"
Nadia: "Printer atau perasaan, Ra?"
Rara menahan tawa.
"Teman-temanku ini kayak hiu mencium bau darah," katanya pelan, setengah kesal, setengah geli.
Belum sempat membalas, notifikasi berubah jadi panggilan video.
Video call. Sial.
Ia sempat ingin abaikan, tapi gengsi kalau dianggap menghindar. Akhirnya, dengan wajah polos dan rambut berantakan, ia angkat juga.
Tiga wajah langsung muncul di layar: