Hari itu, Jambi lagi panas tapi mendung. Langit abu-abu, tapi belum juga menurunkan hujan. Jalanan di depan rumah Rara macet parah, klakson bersahutan, dan aroma aspal basah sisa hujan semalam masih terasa samar di udara.
Di ruang tamunya yang berantakan oleh kertas naskah dan laptop setengah ngambek, Rara sedang berusaha nulis revisi buku yang katanya "cuma tinggal sedikit lagi". Tapi "sedikit" versi editor bisa berarti satu bab penuh. Dan "sebentar" versi Rara bisa berarti tiga hari.
"Deadline tuh kayak mantan," gumamnya sambil mengetik cepat. "Udah lewat, tapi masih aja nongol di hidup kita."
Baru lima menit fokus, ponselnya bergetar.
Notifikasi dari aplikasi ojol muncul. Pesan dari driver.
Damar (Driver Ojol),
"Mbak Rara, maaf banget ya... kopi dan pisang bakarnya keantar ke pelanggan lain. Tadi sistemnya masuk order bareng, jadi paketnya nyampur.
Saya lagi balik ke kedai, nanti saya gantiin, boleh?"
Rara melotot.
Mas ojol itu lagi.
Astaga. Dari ratusan driver di aplikasi, kenapa semesta selalu milih Damar?
Cowok itu udah tiga kali nganterin kopi yang sama minggu ini. Dan, ya, entah kenapa selalu ada aja drama kecil di tiap pengantaran. Pernah bannya bocor, pernah kehujanan, sekarang... kopi nyasar.
Dia mengetik balasan.
Rara: "Mas, serius? Jadi kopi saya sekarang udah diminum orang?"
Damar: "Belum, Mbak. Saya udah minta pelanggan lain itu buat nggak buka.
Katanya dia juga pesen minuman yang sama. Jadi sistemnya ngira satu orderan."
Rara: "Hebat juga sistemnya. Bisa ngeramal pesanan orang."
Damar: "Iya, tapi sayangnya ramalan hatinya belum akurat."
Rara: "Mas ini suka banget ya bawa-bawa hati."
Damar: "Soalnya kalau bawa kopi doang, dingin, Mbak."
Rara mendesah, tapi ujung bibirnya menahan senyum.
Cowok ini selalu bisa bikin kalimat absurd jadi terdengar logis atau mungkin suaranya aja yang enak dibaca.
Tak sampai satu jam kemudian, suara motor berhenti di depan pagar. Rara menatap dari jendela. Bener, motor hijau itu lagi. Damar turun, masih dengan jaket dan helm setengah terlepas, sambil membawa dua gelas kopi dan sekotak pisang bakar.
"Masih panas pisangnya, Mbak," katanya, tersenyum lebar. "Saya pesen ulang langsung dari kedainya. Sekalian ganti yang tadi."