BAB 1
Jangan memperkeruh situasi kecuali situasu.
-_-_-_-
Mata menyapu pandangan ke segala arah memperhatikan betapa bagusnnya sekolah ini, predikat favorit memang layak disandang. Mengantri menunggu giliran daftar ulang dan pembagian kain seragam sekolah.
Karena nama berinisial S maka aku menunggu untuk waktu yang sangat lama. Dan penantianku berakhir setelah nama terpanggil, aku serahkan uang pendaftaran dan mendapat kain seragam. Lalu segera keluar tempat itu menunggu sohib ku, tanpa aku sadari seorang gadis menepuk pundak.
"Dapat disini juga, dik??" Gadis ini menyapa.
"Iya, kak ...," kataku mencoba ramah walau tak mengenali gadis ini.
"Sudah baca visi misi sekolah?? Nanti MOS jangan telat, pakai pakaian yang diminta ya..." pintanya.
"Iya, kak!" jawabku.
Gadis itu pergi disertai aku yang bingung mencoba mengingat apakah pernah mengenalnya. Dalam pikiranku, Mungkin kakak kelas yang sedang mencoba akrab. Tak lupa juga berkenalan dengan kawan-kawan yang akan menjadi satu kelas nanti
Hari senin tiba, aku kayuh sepeda menuju sekolah baru ditambah semangat dengan pakaian perlente bersama sohib.
"Perkenalkan saya Mamed saya dari sana sekolah disana dan tumbuh besar disana," kataku memperkenalkan diri didepan.
"Sudah punya pacar??" tanya salah seorang kawan di kelas ini.
"Alhamdulillah belum, Lagipula saya bukan pecinta sesama jenis," jawab ku.
Gemuruh tawa menggelegar mendengar jawaban yang keluar dari mulut ini, akhirnya semua bergantian memperkenalkan diri. Tetapi ada salah seorang OSIS perempuan yang cukup cantik namun berwajah masam.
Dan setelah itu berganti OSIS memperkenalkan diri, akhirnya aku tahu siapa OSIS manis namun masam itu, Zahra. OSIS di depan memberi kami lembaran nama dan jabatan OSIS, tak lupa nama guru untuk dimintai tanda tangan. Akhirnya hal yang tidak aku suka datang! Aku benci melakukan ini mengingat harus melakukan sesuatu yang konyol untuk sekadar mendapat tanda tangan. Yapp!! Aku memilih menghindar tanpa mendapatkan tanda tangan satupun.
Aku memilih duduk di depan Lab IPA, seseorang menepuk pundak. Dan itu gadis kemarin yang ternyata adalah Ketua OSIS.
"Eh, Mbak Nerissa Arviana Pramudita...," jawabku yang sudah tahu setelah sesi perkenalan dan koyolnya aku malah menyebut nama lengkapnya.
"Kok sendirian?? Temanmu mana?"
"Ada, lagi males minta tanda tangan," jawabku.
"Lho kenapa?? Kan ini maksudnya biar tahu dan kenal siapa saja OSIS dan nama para guru," kata Nerissa.
"Tapi ...," kata ku nunjuk mengapa aku sama sekali tak ingin minta tanda tangan.
Nerissa memerhatikan dengan saksama dan meminta kertas di tangan.
"Buat apa, Mbak Nerissa Arviana Pramudita??"
"Kepanjangan... Panggil aja, Ness."
"Ok, jadi buat apa Kak Ness?" tanyaku.
"Biar ini urusanku."
"Serius??" tanya ku masih tak percaya.