Hay... Kak ness

Firmansyah Slamet
Chapter #3

Part 2

Pagi ini aku memilih bersantai sembari menikmati sarapan, pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah mbak Firda dengan handuk membalut tubuhnya. Dia segera menuju kamar untuk ganti baju. Kini gantian aku yang mandi untuk segera menuju sekolah. Selesai mandi aku melihat mbak Firda sudah siap dengan seragam putih abu abu miliknya. aku juga segera pakai seragam putih biru lalu ambil kunci motor.


"Mau kemana, mas??"tanya Mbak Firda.


Ku jawab dengan helaan napas menjelaskan hal yang sudah pasti,"Ya, mau berangkat lah, Mbak"


"Anak SMP gak boleh bawa motor."


"Yaelah, Mbak ... Capek bawa sepeda kesana-kemari."


Mbak Firda melotot, lebih baik aku kayuh sepeda menuju rumah Bagus. Mbak Firda tahu kalau aku menjemput Bagus untuk berangkat bersama. Dari gang rumah Bagus aku melihatnya berangkat dengan motor miliknya.

Maka aku segera balik kanan ke rumah ambil motor. Sebuah motor tua kukendarai menuju sekolah. Aku parkir di rumah sakit dan segera masuk kelas. Kali ini hanya ada pembagian jadwal pelajaran serta pembagian buku paket pinjaman sekolah. Dan besok kami bisa memulai pelajaran seperti biasa, hari ini cuma kosong diiringi hura-hura. Aku memilih menuju koperasi dan membeli fanta untuk Nerissa.

Dia duduk santai didepan BK menonton TV penjaga sekolah. Depan ruang BK memang ada TV entah untuk apa. Aku juga lupa apa yang ia tonton waktu itu, yang penting suara TV itu kalah dengan suara bising anak-anak satu sekolah.


Matanya melekat erat TV itu."Makasih, ya ...," kata Nerissa masih memperhatikan TV.


Ah cantiknya Nerissa... Ucap ku dalam hati. Aku pergi dan kembali dengan roti keju.


"Makasih lagi, ya..." Nerissa masih memperhatikan TV, aku tak paham apa yang tengah ia tonton.


Dia nyemil fokus pada TV, tanpa memperhatikanku! Aku dikacangin. Sekali lagi aku perhatikan wajah ayu Nerissa, memang aku terpesona akan pancarannya.


"Kenapa lihatin aku terus??" tanya Nerissa dengan mulut penuh roti.


"Kamu lucu kalau gitu, Kak Ness ...," kataku.


Nerissa menggunakan tangannya untuk mengarahkan pandanganku pada TV. Dia kembali memperhatikan TV, aku kembali meliriknya, hingga tak sadar kepala mulai menoleh. Rupanya Nerissa tahu itu dan mendorong wajahku untuk menjauh. Tiba-tiba TV berganti dengan semut perang, dan bel pulang berbunyi.


"Jancok!!" Nerissa melempar bungkus roti.


Entah apa acara yang membuat Nerissa jengkel.


"Pulang!!" kata Nerissa.


Segera aku ambil tas di kelas dan bersantai melewati anak-anak yang rusuh ingin menyeberang. Kulihat Nerissa yang menunggu angkutan sambil resah melihati jam tangan. Masih sempat ia bergulat dengan cimol yang ia kunyah sembari menghilangkan resah, lagipula ini bukan jam pulang sekolah! Mana ada angkutan jam segini.


"Mau aku antar, Kak Ness??" tanyaku.


"Rumahku jauh, nanti mutarnya kejauhan!" kata Nerissa yang terlihat gusar.


"Suwer, gak masalah," kataku dengan mengangkat dua jari.


"Jangan deket-deket, risih!" kata Nerissa masih resah.


"Aku bawa motor," balasku.


Dan langsung saja Nerissa menarik tanganku menuju rumah sakit. Sudah jadi hal umum kalau perkiran rumah sakit menjadi tempat menitip motor bagi siswa nakal SMP.


"Ei... Ei... Ei!! Tunggu dulu."


Lihat selengkapnya