"Janc*k asu!!" Aku memaki Nerissa.
Nerissa meninggalkan aku begitu saja dengan bensin habis! Besok tak akan lagi aku mengantarnya pulang. Rugi bandar namanya!. Kudorong motor menuju tukang bensin dan dewi fortuna masih menyertai dengan meletakkan uang dalam jok. Aku isi pake bensin campur lalu melaju pulang.
Aku menyalakan kipas angin, gerah terasa seperti dalam tungku kereta uap. Terlebih teringat jelas dalam benak mengenai tingkah laku Nerissa hari ini dan kemarin lusa. Aku berjanji tak akan mengantarnya pulang lagi, aku dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dan meninggalkanku begitu saja.
Aku terbangun karena badan tertindih sesuatu!! Dan itu Mbak Firda yang ingin menikmati kipas sendirian. Dengan sekuat tenaga kudorong dan menyingkirkannya. Kuambil alih kipas angin dan membawanya ke depan TV. Mbak Firda bangun dan mengambil kipas! Aku yang geram memilih pergi saja, kuambil motornya dan membawanya jalan jalan.
Dan di sore hari akhirnya emak pulang dan membawa sesuatu yang baru untukku! sebuah ponsel, benda yang dianngap mewah pada jamannya. tidak semua orang bisa memiliki hal ini. terlebih wartel masih ada walaupun mulai berkurang.
Senangnya hati ini, tetapi segera buyar melihat emak juga memberi ponsel baru yang sama untuk Mbak Firda. Saudara juga bukan, ada hubungan enggak... Tapi biarlah sudah. Dan yang paling membahagiakan ialah motor bebek berwarna jingga kembali setelah ini itu anu. Kini kembali ke pelukanku.
Aku cuci motor sampai bersih, besok mau bawa motor dan aku lagi tak ingin naik sepeda.
Keesokan paginya aku bersantai karena naik motor jauh lebih cepat daripada naik sepeda. Aku memutar bola mata untuk melihat keberadaan guru lalu langsung memasukkan di parkiran rumah sakit. Aku mengikuti upacara dan melihat Nerissa didepan sebagai Pemimpin upacara. Huuuu..... Sudah cantik, pintar, dikelas unggulan, berpreatasi... Perfect!! Tapi nanti aku tak mau mengantarnya pulang. Suaranya lantang tapi masih ada aksen kemayu feminim.
*****
Kali ini otakku tak ada keinginan mengunjungi kopsis melainkan memilih ke kantin untuk makan, dan aku senang tak ada tanda-tanda keberadaan dari Nerissa. Mungkin jika Nerissa muncul... Aku tak ingin membayangkannya kali ini.
Aku masih asyik makan diselingi candaan bersama Rena, disinilah aku kenal dengan Rena atau bisa disebut si gigi jelek sebagai sahabat baru. Kami bisa akrab dalam sekejap mungkin karena kelas kami bersebelahan.
"Kampret!! Tempe ku jatuh!" seru Rena.
"Jangan pecicilan, Renatta!!"
Langsung saja dia comot tempe tepung di piringku.
"Itu punyaku, Renatta!!"
"Orang pelit, kuburan sempit, Med!!" kata Rena.
Dia asyik makan, begitu juga denganku. Dia beranjak dengan piring mengendap-endap ambil gorengan tempe dan ayam goreng tepung.
"Eh, kampret! Enak banget main comot"
"Bu kantin lagi goreng bakwan," kata Rena memberiku beberapa.
"Aku mau tempe nya aja."
"Ah, cerewet jadi orang."
"Ini ayam apaan, tepungnya gede macam di kaepci, ayamnya se kuku jempol," kataku mencibir.
"500 dapat dua! minta macam kaepci?" kata Rena,"Enggak usah protes!"
Kami masih makan berdua di belakang karena meja kantin penuh sesak, kami makan diiringi bau-bau dari tempat cuci piring. Kami juga sedikit bercanda soal hari ini atau guru menyebalkan.
Dan langsung skip bel pulang, aku memicingkan mata melihat dari jauh apakah Nerissa ada di depan. Benar saja ketika dia duduk santai menikmati es kelapa muda. Ini orang sumpah bakal ngeselin, kumelihat kawan sejurusan pulang menuntun sepeda dari parkiran. Pikiran busuk dari otak bisa diandalkan, setidaknya untuk saat ini.
"Yuk, pulang!" kata Nerissa berbinar melihatku! Hanya untuk menumpang.
"Aku enggak bawa motor, boncengan sama David," kataku berbohong.
Nerissa memonyongkan bibirnya kecewa, setidaknya aku berhasil mengelabuhinya lalu pergi. Aku bayar parkir lalu keluar! Tepat di exit Nerissa berdiri menunggu dengan memeluk bukunya!.
KATA MUTIARA!
Dengan wajah cemberutnya dia langsung merebut kunci.
"Enggak mau di tumpangi, Motor baru!!"kata Nerissa nyinyir layaknya emak-emak.
Aku garuk kepala meskipun tak gatal.
"Sudah berapa lama?" tanya Nerissa.
Dia melihat-lihat motor ini sambil mengelus body dan lampu, aku agak khawatir tiba-tiba tangan sialan itu membuat baret body motor.
"Baru semingguan," kataku asal bunyi.
"Pantes, plat nya belum ada."
Nerissa mintaku untuk minggir, dia akan ambil alih kemudi.
"Jangan ya, kak Ness ... sumpah ini masih baru! Belum ada cewek yang dibonceng, mana surat suratnya belum turun juga," kataku mencegahnya
Nerissa menatapku,"Ya sudah, karena ini yang pertama kau boleh bonceng aku"