Hay... Kak ness

Firmansyah Slamet
Chapter #5

Part 4

Keesokan harinya kulangkahkan kaki menuju kopsis karena melihat Nerissa duduk di depan lab IPA sendirian dan tengah asyik dengan bukunya! Agak sedikit mencurigakan, biasanya kedua sahabatnya menemani ...

Aku membelikannya roti keju kesukaannya,


"Roti doank?? kau mau aku mati seret?"tanya Nerissa.


Astagfirullah!! Tak ada rasa terima kasih darinya.


"Yaudah, aku beliin!" kataku.


Aku balik kanan kembali ke kopsis ambil air mineral dingin karena minuman jeruk tengah kosong.


"Kok air dingin?? Pelit banget kau jadi orang?? Ini gak ada rasanya!!!"


Untungnya Nerissa cantik dan aku suka sama kamu! Coba saja kau kurang cantik... Sudah ku ludahi wajahmu itu. Aku kembali ke kopsis menukar dengan minuman yang mempunyai rasa.


"Apaan nih?? Strawberry?? Gak! aku gak mau dan aku alergi!!" kata Nerissa


Sabar... Sabar... Sabar... Ini demi mendapatkan senyum Nerissa.


"Anggur? bosen sama anggur!!" kata Nerissa melihatku bawa minuman rasa anggur.


Kucoba bersabar lagi lalu membawakan teh botol dan ajaibnya dia tidak menolak alias mau. Aku bisa bernafas lega tapi juga ada rasa ingin mencekik lehernya lalu menghantamkan kepalanya ke dinding.

Tapi setelah mendapat minuman, Nerissa memberiku roti kacang!! Rasa jengkel langsung berubah 180°. Hati berbungah, ada rasa yang membuncah. Nerissa cantik sekali ketika sedang mengunyah roti sembari fokus dengan bukunya.


"Kenapa lihatin aku??!" Judes Nerissa keluar layaknya singa beranak.


"Eee... heran aja," ucapku menggaruk kepala meskipun tidak gatal, "belajar terus ... enggak bosen??"


Nerissa mendengus lalu kembali fokus pada bukunya dan sesekali sorot mataku melirik memperhatikan wajah ayu Nerissa.


"Kau bawa motor, gak??" Celetuk Nerissa tanpa menoleh.


"Enggak," jawabku.


"Serius??"


"Iya ... aku bawa sepeda hari ini"


Nerissa diam, menutup bukunya lalu memulai obrolan dengan topik keberanianku membawa motor. Kami berbincang mengenai banyak hal, selalu ada hal yang diperbincangkan hingga jam istirahat selesai. Buru-buru ia beranjak, aku yang masih duduk memperhatikan berjalan menuju kelasnya melintasi lapangan futsal. Cantiknya Nerissa membuatku tersenyum-senyum layaknya orang gila.


"Masuk!!" Ada Pak Imam menjewer kuping, "Gak usah jadi orang gila!" imbuh beliau.


"Iya, iya, iya, iya!" Aku meminta ampun sembari berusaha melepas jeweran telinga.


Jam kelas kosong saat ini, cukup membosankan dan beberapa kali di minggu ini jam kelas kosong. Daripada diisi guru lain dan di ceramahi dengan ceramah membosankan. maka dengan PeDe selangit segera kutulis di papan tugas mengerjakan soal dari halaman sekian sampai sekian agar tak diisi guru lain. Lalu memilih tidur! namun suara gaduh membuatku terjaga, sesuatu mendarat di kepala dan itu adalah bola kertas. Aku menoleh ke kiri, ada Suci yang tersenyum.


"Buka dong!" kata Suci, ternyata dia yang mengirim surat ini.


Kubuka dan menemukan tulisan, "Boleh kenalan??" Kepalaku menoleh ke arahnya, dia sedang tersenyum.


"Kau tahu betul siapa teman sebangkumu," kataku.


"Heh!! Sudah jelek, sok ganteng, bodoh, hidup pula!!" hina Suci.


Deg!! Petir menyambar!! ⚡


"Maksudku, kita sudah bareng lama! masih gak kenal??" tanyaku sinis.


Suci nyengir.


"Jadi siapa yang bodoh?" tanyaku.


Dan suci melempar penghapus tepat di muka.


"Iya, sori sori!"


"Lagi ngapain?" tanya Suci.


"Tidur," jawabku singkat lalu menenggelamkan wajah ke meja mengagumi kecantikan Nerissa melalui ingatan.


Sebuah bola kertas kembali mendarat.


"Enggak main bareng temen-temen?" Tulisan suci cukup rapi.


"Lagi males," jawabku mengembalikan bola kertas.


"Hari ini cerah, ya... " Suci masih mengirim kertas.

Lihat selengkapnya