Hay... Kak ness

Firmansyah Slamet
Chapter #6

Part 5


Hari-hari berikutnya aku semakin intens naik sepeda menghindari mengantar Nerissa pulang. Namun, di suatu hari aku nekat bawa motor alias lelah bawa sepeda. Terlihat Nerissa turun dari angkutan, melihatku jalan kaki keluar dari parkiran rumah sakit membuatnya tersenyum sejenak begitu juga denganku yang melihat wajah ayunya terasa membuat pagi ini begitu indah.


"Semalam aku mimpi kamu, Kak Ness."


"Jangan mulai, suasana hati lagi gak pas," kata Nerissa terlihat jengkel.


Dia berjalan buru-buru, mungkin suasana hati memang tidak baik karena Rena!! Beneran minta digetok palanya!. Aku langsung mencari dimana keberadaan Rena, mata mencari-cari dan menemukannya sedang sarapan di kantin.


"Heh!" kataku gebrak meja.


"Bikin kaget aja, kampret!!"


"Asu memang kau, Rena!! Asu banget!!" kataku.


"Kenapa??" tanya Rena.


Aku ingin membuka mulut tetapi ada banyak orang dan rasanya aku akan merasa sangat malu.


"Nanti saja ... Banyak orang, malu!" kataku nyengir.


"Ooo... Kampret!!" maki Rena.


Segera aku keluar kantin memasuki kelas untuk sekedar berpikir ada apa dengan Nerissa hari ini, kepalaku bersandar pada meja. Lalu guru masuk dan tak biasanya Suci hanya diam di sebelahku tanpa menyapa sama sekali. Dan tak biasanya juga rok Biru langit miliknya sedikit berbeda, sepatunya juga. Kuangkat kepala dan ternyata Itu Rena sebangku denganku! Dan bukan Suci.


"Eh!! Nyasar?" tanyaku berbisik.


"Lagi kosong, enakan di sini... Kelas baru, daripada kelasku angker, cuk!" kata Rena.


Guru agama masuk mengajarkan tentang tata baca Al-Quran. Kami dengan tenang mengikuti pelajaran, satu persatu diminta membaca beberapa ayat dengan tajwid yang benar. Aku mendapat banyak ejekan karena bacaanku lancar tetapi tak beraturan. Kini giliran Rena yang membaca dan bacaannya bagus dengan tartil yang baik, pokoknya perfect lah!.


"Lho... Kamu anak kelas C, kenapa disini??" tanya pak guru.


Rena nyengir ketahuan menyusup.


"Kelas saya kosong pak, makanya saya kesini biar gak nganggur di kelas," kata Rena.


Pak guru hanya geleng-geleng dan kembali melanjukan mengajar..


"Tadi mau bilang apa?" tanya Rena pelan sembari memperhatikan pelajaran.


"Soal Nerissa."


"Kenapa? sedih pas tahu dia bukan muslim?"


"Ngawur!! bohong, sumpah kemarin dia bilang 100% indo! Tadi pagi aku coba sapa kan, macam jengkel gitu lihat aku! kau sih main ngomong aja!"


"Genahe koe!(Yang bener!)" kata Rena.


"Rena... Kalau cuma mau ganggu lebih baik kembali saja ke kelasmu," kata pak guru.


"Mamed lho pak, godain mulu," kata Rena dan aku kena getahnya.


"Med... Seneng ya, dapat kawan baru?? Biasanya si Suci yang kamu godain."


Sekelas riuh! Apalagi ada juga meneriakkan nama Nerissa. Lalu suasana kelas kembali kalem.


"Jadi Nerissa benci, dong?"


"Iya, lah ...," kataku.


"Oh kasihan ... aduh kasihan...," ejek Rena dengan nada menyebalkan.


"Itu gara-gara kau!"


"Eh... Kau itu aku tolong, daripada dimanfaatin Nerissa, lho!"


Dan Rena ada benarnya, selama ini aku hanya dimanfaatkan untuk jadi sopir tanpa imbalan.


*****


Lihat selengkapnya