Di tengah kesunyian malam, di dalam sebuah kamar tanpa cahaya, seorang pria termangu menatap arloji pintarnya. Mulutnya meracau menghitung mundur.
“Sekarang!” Ia melihat ke pintu yang perlahan terbuka dan memasukkan cahaya. Seseorang membawa sesuatu dengan lilin yang menyala di atasnya.
“Happy birthday to you! Happy birthday to you!” suara merdu wanita mengisi ruangan.
“Ah ... Dino terkejut, Ma!” ucap pria itu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Dino! Ngeselin banget reaksinya,” wanita itu berucap sembari menurunkan bahunya.
Dino terkekeh dan meminta maaf, sementara Mama tersenyum. Pria itu meniup lilin yang berada di atas sebuah cheesecake berwarna kuning pucat polos dengan papan cokelat bertuliskan “Selamat 23 Tahun Anakku”.
Dino memotong kuenya. Mama menuju kamar dan kembali dengan membawa dua buah kotak berwarna merah dan hitam yang berukuran besar hingga tubuhnya tertutup. Ia berjalan dengan mulutnya menjepit rokok yang menyala, mirip seperti lokomotif kereta.
“Yang merah dari Mama, yang hitam dari Pipo.”
Dino berhenti memotong kuenya. Ia duduk menatap kotak itu. “Kado dari Pipo?” ucapnya pelan.
Mama mengangguk dan duduk menatap benda yang ia bawa. “Semuanya kayak sudah direncanakan oleh Pipo. Kado ini sudah Mama simpan sebelum kamu dilahirkan. Tapi Mama gak tahu maksud Pipo apa. Kado itu seharusnya kamu terima tahun lalu, sewaktu ulang tahunmu yang kedua puluh dua. Tapi Mama lupa dan baru ingat beberapa hari lalu. Maaf ya, Nak.” Mata Mama berkaca-kaca.
Dino mengetuk pelan meja dengan ujung jarinya beberapa kali lalu berdiri menyeduh kopi buat Mama dan dirinya. Setelahnya ia turut membakar rokok yang membuat aroma minuman itu berkolaborasi dengan asap tembakau.
“Waktu Pipo kasih ini Mama protes,” Mama menarik napas dalam, “tapi Pipo gak pernah kasih tahu alasannya sampai dia pergi.”
Dino menyeka wajah Mama dan memeluknya erat.
“Sebelumnya, Pipo minta nama Dino jadi nama kamu Mama gak setuju. Tapi, sewaktu dia meninggal yang mana pas banget waktunya dengan kamu lahir, akhirnya Mama setuju. Dan Mama malah jadi mikir kalau itu semua pertanda.”
Dino mengetukkan jemari berulang kali pada pahanya, mulutnya terkatup. Ia duduk bersandar pada kursi kayu dengan kaki menyilang, ia biarkan kaki kirinya di lantai, sedangkan yang kanan menggantung.