Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #2

13 Mei 2030 04:30

Pagi ini, Dino mengenakan semua hadiah yang ia terima—sesuai dengan permintaan Pipo. Ia menyemprotkan parfum cukup banyak pada pakaiannya yang sudah tersimpan lama itu. Tas ransel dari Mama menempel di punggung dan tas selempang dari Pipo menempel di perutnya yang sedikit maju. 

Setiap hari, Dino menyempatkan diri untuk mengurusi warung sembako milik Mama yang ada di bagian depan rumahnya, sebelum berangkat dan setelah ia pulang bekerja. 

Mama tertegun menatap Dino. “Kamu mirip banget dengan Pipo, Nak,” ucap Mama yang disambut senyuman oleh Dino. Mama bersendu di balik etalase warung yang tertata rapi. Jarinya seperti mengukir kenangan di meja kasir yang terbuat dari kayu. 

Dino memacu motor trail-nya dan menembus kemacetan Kota Bebala. Setiap bekerja ia menempuh lebih dari dua jam menuju Kota Belago, kota yang menjadi ibu kota negara Waya.  

“Nge, cakep gak gua?” 

“Cakeplah, kan kita orang yang sama.” Mulut Dino menjawab sendiri pertanyaannya. 

“Rasanya, gaya ini cocok sama gua, tiap hari dah pakai begini. Tapi, Nge, kalau dengar cerita Mama semalam, gua bisa tarik kesimpulan. Andaikan dulu Pipo punya mobil, pasti Pipo gak akan balik lagi buat jemput Nenek, jadi perginya bareng aja gitu.” 

“Mulai lagi deh, ‘tapi dulu, tapi dulu terus’.” 

“Hehe, abisan gua heran, Nge, kenapa sih ada di lingkaran miskin terus, dari kakek, orang tua, terus gua gak ada yang kaya?” 

“Saban hari lu protes masa lalu mulu.” 

Lihat selengkapnya