Dino meremas kotak rokoknya sembari berdiri dan membakar batang terakhirnya. Ia menghubungi Mama dan memberitahukan bahwa dirinya segera pulang dengan membawa makanan.
“Sebentar lagi ganti hari, masih belum tahu untuk apa!” Dino menyapukan pandangan ke sekitar lalu keluar dari area kafe dengan kuda besinya.
Menyusuri kota, jalanan sepi menuju dini hari. Hawa dingin menembus jaket kulit melalui pergelangan tangan.
Dino memelankan laju motor dan menikmati perjalanannya, memperhatikan sisi jalanan dengan suasana remang. Tegang tubuhnya perlahan mengendur dengan senyumnya yang tersimpul.
Terlihat wajah asli metropolitan, seperti wanita yang hendak tidur tanpa polesan. Banyak gerobak sampah terparkir di pinggir jalan dengan latar gedung tinggi. Orang-orang tertidur di trotoar beralaskan kardus dan beratapkan langit malam tanpa bintang. Lampu-lampu dari bangunan yang tinggi menjulang memadamkan cahaya benda-benda langit. Debu dan sisa asap pembakaran kendaraan yang sepanjang hari memenuhi jalanan, perlahan turun menutupi aspal karena dengan rendahnya mobilitas pada malam hari.
Dino melihat sekumpulan lelaki yang menari dengan seorang wanita yang bernyanyi di tengah mereka.
Tak berkomentar apa pun, Dino memandang wajar fenomena malam yang sedang terjadi. Sembilan puluh menit berkendara, ia sampai di jalan lintas antar kota Belago dan Bebala.
Jalan lintas ini cenderung lurus, luas dan mulus, membuat pengendara sangat senang memacu kencang kendaraannya. Di sini banyak sekali ruko tua dengan cat usang, berderet tanpa celah kosong di antaranya. Semakin terlihat padat dengan area depannya yang hanya tersisa sedikit untuk area parkir.
Kabut menghampiri Dino. Tak ada kendaraan lain yang melintas selain dirinya, atau mungkin memang sudah larut malam pikirnya.
“Kabutnya makin tebal nih, Nge.”
“Iya ya, biasanya gak gini kalaupun pulang subuh ya.”
“Mau hujan kali, Nge, ya?”
“Ya ndak tahu, kok tanya saya. Tapi memang anginnya sih kayak mau hujan.”
“Sampai rumah dulu deh, baru hujan, Nge.”
“Ngana emang punya orang dalam di langit?”
Dino tertawa dan larut dalam perbincangannya sendiri.
Sesaat diam, Dino kembali fokus berkendara dengan kabut yang semakin membuatnya kesulitan melihat. Namun, ia cukup yakin dan percaya diri memacu kendaraannya.
“Lama-lama gak kelihatan Nge.”
“Udah, hajar terus, jangan kasih pelan! Capek, pengen rebahan!”
Semakin lama semua pandangan Dino pun menjadi putih. Bahkan aspal di tempatnya melaju ikut memutih layaknya kertas pada buku gambar. Dino merasa seperti melayang, tuas gas yang ada di tangannya menghilang, badannya sudah tak ada tumpuan, jok dan tangki motor yang ia apit juga sudah tiada. Seperti astronaut yang sedang berada di ruang hampa, ia tak lagi rasakan gravitasi. Tak ada yang bisa ia raih dan pegang.
Dino berusaha menurunkan kakinya dan merasakan ada pijakan solid. Terdiam dan melihat sekitar, dia sedang diselimuti putih. Hendak ke mana ia pergi ia tak tahu, dan ia hanya bisa berdiam diri dengan jantung yang kencang. Hatinya bertanya di mana keberadaannya kini hingga terbawa ke mulutnya yang meracau.
Hingga tiba-tiba ada sebuah titik hitam muncul di depannya, terlihat jauh dari posisi ia berdiri—warnanya sangat kontras.
Dino menelan ludah melihatnya, tangannya mendadak bergetar, keringat mengalir meski badannya merasa dingin. Titik tersebut mendekatinya. Semakin besar dan terus membesar. Hingga akhirnya hitam menghapuskan putih dan menelan Dino bersamanya.
Hitam pekat. Dino memutar badannya, tak ia temukan setitik warna lain—gulita. Hingga ia merasakan semilir angin hujan yang ia rasakan sebelumnya menyapu tengkuknya.
Dino membalikkan badan dan terkesiap mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat. Ia perhatikan dengan saksama, dan menengok ke segala arah untuk memastikan putih dan hitam yang menawannya tadi sudah menghilang.
Dengan menggaruk kepala, Dino melihat semua bangunan, jalanan, dan suasana terlihat mirip dengan area yang ia lalui sebelumnya. Namun kini jalanannya menjadi lebih sempit dengan area kosong depan ruko yang sangat lebar. Warna bangunannya juga terlihat lebih baru dan bersih, tidak usang.
“Ini di mana? Motor di mana? Ranselnya mana?” Dino meracau, “yang ada cuma tas selempang ini aja.” Dino memegang erat tasnya.
Dino memutuskan untuk menyisir jalanan yang sebelumnya ia lalui, mondar-mandir ke sisi jalanan dengan mulut yang terus berbicara sendiri. Sejenak ia terdiam mengambil napas dan melanjutkannya lagi. Hingga hampir satu jam mencari, kemeja hadiah dari Pipo yang ia kenakan sudah basah kuyup.
“Gak mungkin rasanya motor segede gitu hilang gitu aja!”
Dino duduk di sebuah batu yang berada di pinggir jalan. Napasnya tersengal, ia dapat mendengar suara jantungnya. “Harusnya ini benar jalanan yang sama gua lalui.” Dino mengusap wajahnya. “Di mana orang-orang? Gua mau tanya.” Dino berteriak dan sunyi setelahnya. Matanya terus menyapu sekitar.
Bulan sedang melimpahkan cahayanya pada keresahan Dino. Ia termangu dan membatin, “Semua barang yang Pipo kasih masih utuh. Apa sebenarnya maksud Pipo?”
“Nge, kita kenapa ini? Jawab gua, Nge, gua bingung banget.”
“Gua gak tahu, gua juga bingung!”
Dino menggelengkan kepala. Ia meraih tas selempang. “Loh? HP mana?” Ia merogoh kembali tasnya dan hanya menemukan dompet dari Pipo. “KTP dan kartu-kartu lain hilang juga? Cuma ada duit ini, duit seribu? Padahal tadi pagi udah dipindah ke sini semuanya.”
Dino mengernyit. “Hm, benar kan yang ada cuma barang dari Pipo.” Dino menatap kosong pada isi dompet yang ia pegang. Kepalanya yang tak gatal pun ia garuk kembali dan ia pun menggigit lidahnya lalu merasakan sakit. “Aduh! Benar ini, gak mungkin mimpi!”
Dino kembali berjalan atas dasar keyakinan menuju rumahnya, hingga terdengar suara kendaraan dari belakangnya.
“Tet ... Tet ... Tet ...”
Dino berbalik, sebuah mini bus berwarna biru membunyikan kembali klaksonnya.