Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #4

Hari Baru di Masa Lalu

Beberapa jam kemudian, Dino dibangunkan oleh Ibu yang hendak ke pasar.  

Dino mengiyakan dan bergumam, “Itu bukan Mama. Itu Ibu! Ini rumah yang sama, gua harus kayak biasa, jangan aneh-aneh! Jangan bikin ibu curiga!” 

Pikirannya kembali kosong, ia berjalan menuju meja belajar yang berada di kamar.  

“Kenapa gua sampai ada di sini? Apa sebenarnya rencana Pipo?” 

Ia menopangkan kepalanya di atas tangan kanannya yang berdiri dan melihat setumpuk dokumen di hadapannya. 

“Nge, Nge. Jadi apa yang gua lakuin sekarang, Nge?” Dino berkali-kali mengusap wajahnya. Ia setengah berteriak menarik rambut.  

“Kayaknya ini hukuman buat lu yang sering ngeluhin kemiskinan Pipo.” 

“Hah? Tapi apa cuma gua? Banyak anak lain yang ngeluhin kondisi orang tuanya!” 

“Ya, ndak tahu, kok tanya saya?” 

“Iya, iya, iya. Terus gua mgapain sekarang?” 

“Hidup terus lanjut. Lu lihat itu banyak dokumen lamaran buat ngelamar kerja, gak mungkin itu kekirim sendiri.” 

“Gua belum bisa terima kalau ini nyata! Dan kenapa lu nyaranin begitu?” 

“Realistis aja. Ini hidup lu! Lu udah gigit lidah dan pukulin kepala, sakit kan? Artinya ini nyata.” 

“Tapi, Nge?” 

“Tapi apa lagi?  Heran gua, ‘tapi, tapi’ mulu! Andaikan lu bukan tuan rumah di sini, udah gua usir juga lu! Sayangnya gua cuma numpang di badan lu!” 

“Ah elah, itu mau diapain? Harus banget ini pagi-pagi nyari kerja?” 

“Lu kan Auditor, harusnya lu bisa lebih pintar dari ini! Gak perlu minta pendapat terus.” 

“Kan gua juga butuh pendapat!” 

“Ya, lu pikir dong!” 

Dino menguap dengan kencang. “Ah ... lu mah mojokin mulu! Emang bikin gak tenang nih jadi pengangguran!” Dino menggerutu. 

“Berisik! Cari kerja dulu bege!” 

Dino mengambil koran dan membacanya perlahan sembari menulis. Ia melihat beberapa lowongan pekerjaan pada kolom iklan. Sering kali ia menggaruk kepala dan menggigit ujung pulpennya hingga tak berbentuk. Ia mencatat lowomgan yang menarik pada surat lamaran dan amplop cokelatnya. 

“Tapi ini ada yang drop lamaran langsung ke kantor, tapi ada juga yang harus dikirim via pos. Yaudah deh, yang drop langsung datengin ajalah, hitung-hitung jalan-jalan dan nikmatin suasana masa lalu. Sama yang kirim lewat pos juga deh biar sekalian kirim-kirim.” Dino mengangguk. 

Lebih dari satu jam Dino berkutat dengan lowongan pekerjaan. Terdengar suara ketuk pintu yang ternyata itu adalah Ibu. Dino bergegas membukakan pintu dan Ibu langsung masuk membawa dua buah plastik besar. 

“Nak, warungnya kok belum dibuka? Itu juga motor belum dikeluarin," ucap Ibu sambil terus berjalan. 

“Iya, Bu, ini baru mau dibuka." Dino segera menjalani perintah. 

Setelah dunia luar terlihat dari dalam warung, Dino duduk di meja kasir yang merupakan tempat favorit Mama. “Biasanya ada suara band SkySka nih yang nemenin Mama di sini,” batinnya. 

Ibu menghampiri dengan segelas kopi hitam dan koran yang ia letakkan di hadapan Dino. “Kopi sama korannya masih sama-sama hangat nih," ucap Ibu sembari berlalu menuju dapur lagi. 

Dino melirik Ibu dengan bingung. Matanya mengikuti Ibu yang hilang dari pandangannya terhalang tembok lalu segera menyergap koran itu. Ia langsung disuguhkan sebuah iklan dengan satu halaman penuh dan berwarna.  

”Hadirilah pameran kerja terbesar dan terlengkap tahun 2005," ucap Dino dengan mata membesar. Ia baca satu per satu daftar perusahaan dengan jarinya menempel pada koran. “Bank Rush Utopia, Bankru ya? Hmm, menarik! Ini sih CLBK namanya. Tapi kan Pipo memang bekerja di sini, apa artinya gua juga sama?” 

Tak ada lagi yang menarik hatinya. Dino berdiri dan menatap luar, tatapannya terkunci pada motor yang tadi ia keluarkan. Ia datangi dan mengelusnya dengan penuh kelembutan. Halus tanpa baret. Jemarinya bermain mulai dari tangki menuju jok kulit hitam hingga ke lampu rem dengan mika merah. Dia berputar pada sisi satunya, ia elus lagi dari lampu belakang menuju jok, tangki, spidometer dan terakhir jemarinya bermuara di lampu utama. Dengan satu kali sentakan kaki, motor itu menyala. Senyum Dino melebar melihat knalpot yang mengeluarkan asap dengan suara merdu. 

Sayup-sayup terdengar suara spatula stainless steel yang beradu dengan wajan dari arah dapur—menjadi musik pengiring suara motor Dino. Suara itu membuat perutnya turut berorkestra, apalagi ketika aroma masakan menghunjam hidungnya, hingga membuatnya bersegera menyiapkan diri untuk hari barunya di masa lalu. 

“Mau ke mana hari ini, Nak?” Ibu menghentikan langkah Dino yang baru selesai mandi. 

“Eh, belum tahu, Bu.” 

“Gak kirim lamaran lagi?” 

“Iya, Bu, mau kirim lamaran lagi.” 

Lihat selengkapnya