Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #7

Hari Pertama

Senin yang cerah dengan langit biru yang jarang awan. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dua batang rokok sudah hilang dari tangan Dino. Ia bergegas menuju kuda besinya. Tak lupa ia pamit dan memohon doa restu Ibu yang akan selalu menyertai hidupnya. 

“Nge, Nge, gimana ini, Nge, masuk Bankru lagi kita, Nge?” 

“Deja vu.” 

Dino telah berada di lobi gedung, kondisinya cukup sepi. Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh. Ia memperhatikan sekelilingnya, gedung yang merupakan tempatnya bekerja di tahun 2030. “Gak jauh beda, dan sekarang gua kerja di sini lagi,” gumamnya. 

Dino menanti lift. Ia sedikit gugup, wajahnya sedikit tak tenang. Suara pintu lift terdengar yang menandakan lift tersebut telah tiba dan pintu itu pun terbuka. Dino melangkah maju perlahan sembari menahan gundahnya. 

“Tunggu, tolong tahan liftnya,” teriak seseorang dengan berlari mendekat ke arah lift. 

Tiba-tiba, aroma parfum yang sering menghinggapi hidung Dino di masa depan kembali tercium. Aroma itu seketika menarik Dino seolah ke dalam mesin waktu, semua kenangannya terlintas di benaknya.  

Dino tersadar dan spontan menahan pintu lift agar tidak tertutup. Ia termangu melihat seorang wanita setinggi bahunya masuk dengan terburu, poninya terlempar ke kanan dan ke kiri dengan dahinya yang sedikit lebar mengintip dari celah rambutnya. Mata mereka bertemu untuk beberapa waktu.  

“Terima kasih.” Wanita itu tersenyum. 

Dino mengangguk dengan wajah heran, ia melihat dengan saksama wajah dan postur wanita muda yang memakai gincu natural dan riasan tipis di pipi tirusnya itu. 

Wanita itu masih tersenyum dan melihat ke arah Dino yang masih menekan tombol buka pintu lift. Ia balas mengangguk, namun Dino mematung. 

Seketika bibir Dino rapat, ia tahu harus membalas kata “terima kasih” yang ia terima tapi ia tak mampu. Pikiran terkunci seolah menggembok mulutnya. 

Wanita itu berdeham kencang. 

“Ja ... Ja.. Jani Felicia!“ ucap Dino kencang karena terkesiap. 

Wanita itu menatap tajam Dino dan dahinya bergelombang. “Iya, betul. Bapak siapa?”  

“Eh. Apa-apaan ini, ngapain gua tegur? Mulut gua ngomong sendiri gini!” 

“Halo ... Bapak siapa, ya?” tanya wanita itu sembari menjentikkan iya jarinya. 

“Sa ... sa ... saya Dino Hernandes.” 

“Dino Hernandes? Saya gak ingat punya kenalan dengan nama itu.” 

Dino hanya mengangguk. 

“Maaf, rasanya saya gak kenal dengan Bapak.” Wanita itu mengalihkan pandangannya ke pintu lift. 

“Ma ...” Dino bergumam sembari menutup pintu lift. 

“Apa, Pak?” Wanita itu memajukan wajahnya mengarah pada Dino. 

Dino tersentak. “Eh ... Ma.. mau lantai berapa? Mau turun lantai berapa?” 

Wanita itu bersedekap. “Hm ... dua lima.” 

Dino menatap wanita itu tersenyum sembari menutup pintu lift. “Oke, J!” 

“Eh, apa, Pak? Bapak panggil saya apa?” 

“JJ. Double J,” ucap Dino masih dengan senyumnya 

Lihat selengkapnya