Hari kedua. Dino kembali bertemu JJ pada waktu yang sama di kantin gedung.
“Udah mau makan bareng gua?” tanya JJ yang mengagetkan Dino.
Dino tersenyum kecil, menggaruk kepala dan menggeleng.
“Kalau lu udah mau bilang lu siapa, bilang sama gua ya!”
Dino mengangguk pelan.
“Perkara salah panggil jadi dikejar-kejar begini.”
Sepanjang istirahat selama beberapa hari, Dino menangkap basah JJ yang melihat ke arahnya, wajahnya menegang dan dadanya memanas setiap kali menatapnya. Bahkan Dino sering kali mematung ketika mereka tidak sengaja bertemu muka, ia juga sering tak membalas senyum, salam, sapa yang JJ sampaikan padanya.
Di kasur rumah JJ terus menghantui pikiran Dino. Ia tak menyangka jika perasaan waswasnya di kantor selalu terbawa ke tempatnya beristirahat. JJ benar-benar tak membiarkannya tenang, bahkan ketika mereka sedang tidak bertemu.
“Nge, gimana ini?”
“Emang dia siapa?”
“Kan dia Mama kayak yang lu bilang.”
“Di masa ini, dia siapa?”