Dino terbangun dari tidurnya dengan wajah tegang. Napasnya pendek dengan tangannya yang basah. Matanya memandang sekitar dengan cepat lalu mengusap wajah hingga rambutnya.
“Apaan itu? Sampai kebawa mimpi? Apa artinya? Apa artinya kalau gak sesuai jalan cerita yang ada gua bakal hilang?”
Dino masih mengendurkan urat-uratnya yang menegang sembari mengulangi berkali-kali apa yang JJ ucapkan di dalam mimpi dan coba memahaminya. Semakin ia memikirkannya, keringat membanjiri wajahnya dan tangannya bergetar.
“Dia bukan Mama di sini, dia cuma wanita acak yang tiba-tiba masuk di hidup gua. Eh, gua yang tiba-tiba masuk di hidup wanita acak. Dan apa artinya kalau tidak begitu, gua bakal gak ada?”
Dino menggenggam ujung ranjang tempa yang ia sedang duduki, ia menekan pangkal hidungnya.
“Nge, gimana?”
“Kayak yang gua bilang di awal, ‘dia bukan siapa-siapa’, dan sekarang ada alasan lain: lu jadi Pipo dan kalau mau lu tetap ada, lu harus sama dia.”
Dengan kepala berat Dino coba mengangguk. “Ya sudah, coba kita jalani!” gumamnya pelan.
Di kantin yang sama. Dengan langkah gugup Dino mendatangi gadis yang setiap hari menegurnya sedang mengantre di salah satu booth.
“Jani ...”
JJ membalikkan badannya dan tersentak melihat Dino berdiri di belakangnya. Ia tak menjawab, hanya menaikkan kedua alisnya menatap Dino.
“Mau makan bareng gua?” ucap Dino terbata-bata.
JJ tersenyum lebar, wajahnya riang mendengar ajakan tersebut.
“Eh, duduk di sana aja!” JJ duduk di salah satu kursi.
Dino mengangguk pelan dan memisahkan diri dari kedua temannya.
“Lu udah ingat siapa gua?”
“Oh ... jadi selama ini lu marah sama gua karena gua lupa?”
“Ya gak sih, gua cuma ...” Dino menarik kursi di hadapan JJ.
“Stt ... stop! Jangan ngomong dulu! Duduk dulu!” JJ dengan jari telunjuknya ke bangku yang Dino tarik sebelumnya. Ia terus menatap wajah Dino tanpa mengedip.