“J, minggu depan kita ke Goco mau gak?” tanya Dino pada JJ di sebuah bioskop.
Ini merupakan momen mereka pertama kali mereka menonton layar lebar. Mereka saat ini sedang menanti untuk masuk teater, keduanya duduk di sebuah sofa merah di depan sebuah poster film. Aroma mentega dari jagung berondong memenuhi ruangan bergantian dengan aroma parfum Red Jeans milik JJ yang selalu membelai lembut hidung Dino.
Tangan kanan Dino sibuk mengeruk jagung berondong yang berada di sampingnya—di tengah antara ia dan JJ—sedang tangan kirinya memegang gelas berisi soda dingin. Lorong bioskop ini ramai muda-mudi.
JJ mengerutkan dahinya dan menarik sedikit kepalanya ke belakang. “Goco?”
Dino mengangguk dua kali dengan cepat. Mata mereka saling bertemu, Dino tersenyum pada JJ yang menatapnya penuh tanya.
Dino tak menjelaskan niatnya yang di dasari rasa rindu. Ia ingin sekali bersua manusia yang menjadi kakek dan neneknya di masa depan. Sewaktu kecil, mereka sering kali mengasuhnya yang datang menginap datang dari Kota Goco, karena jarak antara Kota Bebala dan Kota Goco cukup jauh.
“Mau ngapain kita di sana?”
“Main, J. Siapa tahu lu mau pulang, kan bisa main ke rumah lu. pulangnya bisa juga ke danau di kaki Gunung Tujah.”
“Mau ngapain ke rumah?
“Main aja. Apa gak boleh?”
“Hm ... tiba-tiba banget. Ya, boleh sih, tapi gimana kalau ke rumah lu dulu aja deh. Kalau dari sini kan cuma dua jam, kalau ke rumah gua bisa tiga jam, lebih jauh kan? Gimana mau gak??” JJ menaik-turunkan alisnya.
Dino mengangguk setuju.
“Hmm, oke! Pulang nonton ya kita ke rumah lu.” JJ mengacungkan kedua jempolnya Yang dibalas anggukan oleh Dino. Sejenak JJ diam dan mengalihkan pandangannya di karpet merah yang membentang di sepanjang lorong, dan kembali menatap Dino dengan wajah ragu. “Tapi ... tapi apa gak terlalu cepat itu Din?”
Dino menggelengkan pelan kepalanya. “Kan cuma main J, emang harus nunggu apa, biar gak dibilang terlalu cepat? Orang, gua kangen.”
“Kangen?” Wajah ragu itu berubah bingung.