Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #12

Satu Jengkal

Beberapa hari sebelumnya, di suatu sore yang cerah. surya sedang menuju peristirahatannya, dan candra sedang bersiap untuk bertugas menggantikan mega merah merona terbias di langit senja, seperti merah muda bercampur jingga dengan sedikit ungu yang berbaur menghiasi warna langit yang semula biru. 

Dino berjanji bahwa hari ini ia akan membawa JJ ke suatu tempat yang ia rahasiakan. Lelaki itu berdiri di lobi gedung menatap lift. 

“Harusnya ini jadi cara biar Dino tetap ada di masa depan. Tenang ini JJ, bukan Mama!” 

Setiap pintu lift terbuka, Dino berharap JJ lah penghuninya. Berulang kali, hingga ia dapati wanita yang ia nantikan dan menghampirinya dengan senyuman. Desir darahnya berjalan kencang memandang wajah manis itu.  

Bibir berwarna natural dengan polesan tipis rona merah padam pada pipi tirus JJ. Rambutnya berayun seolah menari ketika ia berjalan dengan dahi yang mengintip dari celah poninya. Aroma wangi parfum khasnya tiba lebih dahulu dibandingkan inangnya. 

“Din, maaf tadi antrenya panjang.” 

“Udah dua hari gua di sini, dan lu cuma minta maaf?” 

“Minta duitnya boleh emang?” tanya JJ tetap dengan senyumnya dan tangan yang menengadah. 

“Boleh dong! Ayo ikut, Om!” Dino menarik JJ yang pasrah menuju motor. 

Jalan kendaraan pelan merayap menuju ke hadapan lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. Wajah letih pengendara motor sangat terlihat jelas di balik helm yang mereka kenakan. Terdapat pula bis kota yang menambah kepadatan dengan beberapa penumpang yang menempelkan wajahnya pada kaca jendela dengan mata terpejam, ada juga pengendara mobil terlihat dengan mata sayu menantikan lampu hijau bersinar. 

Hari mulai gelap, tugas matahari telah selesai. Namun, sisa kehangatannya masih terasa. Dino katakan perjalanan mereka tak akan lama dan JJ masih belum mendapatkan kejelasan dari tujuan mereka. Hingga mendekatlah mereka ke sebuah stadion sepak bola satu-satunya yang berada di Kota Belago. Di depannya terpampang jelas sebuah baliho besar yang berisikan informasi mengenai festival musik dengan salah satu bintang tamunya yaitu SkySka. 

"Nonton SkySka nih?” tanya JJ yang dibalas anggukan Dino.  

“Asyik ... padahal gua baru mau ngajaknya besok.” JJ berteriak sembari memeluk Dino dengan sangat erat dari belakang, tangannya bertemu di depan perut Dino. 

Kegiatan itu membuat Dino tersentak seperti tersengat listrik, ia melihat tangan yang sedang melingkar di perutnya. Badannya menegang dengan napasnya memburu. Jantungnya berdetak tak menentu dan telapak tangannya basah. 

“Aduh ... apa lagi ini? Ini bukan dari orang tua ke anak, bukan, bukan, ini dari seorang teman. Ya, ini dari seorang teman.” 

JJ merasakan hal yang aneh pada dirinya sendiri, bisa-bisanya ia seperti ini. Semuanya tanpa ia rencanakan, dan terjadi begitu cepat karena euforia sesaat. Ia segera melepaskan pelukannya dan meminta maaf pada Dino. Namun, tak ada jawaban yang ia terima. 

Semua terlambat, Dino sudah tak mampu berucap. Lidahnya membeku, aliran napasnya tidak beraturan. Campur-aduk, takut dan kaget juga membuat pikiran jadi tak menentu. Rasa yang tak bisa ia jelaskan. 

"Din, baik-baik aja kan? Gak marah kan?” tanya JJ setelah maafnya tak berbalas. 

Dino mengacungkan jempol kirinya yang bergetar. 

Tiba di tempat parkir motor, JJ segera turun sesaat setelah motor berhenti. Ia langsung berdiri tepat di hadapan Dino, menatap wajahnya yang sangat tegang. 

“Kenapa sih lu?” ucap Dino terbata dengan bola matanya mengarah pada JJ. 

“Lu mimisan ya?” JJ bertanya dengan mata yang memicing. 

Dino menggeleng pelan. 

“Gua minta maaf, semua terjadi begitu aja.” 

Dino tersenyum kaku.  

Sejenak terdiam lalu mereka tertawa. Wajah kaku Dino semakin terlihat kala JJ kembali menggandengnya yang tak sabar untuk masuk ke dalam area pertunjukkan. Mereka sudah telat, suara dentuman musik sudah ramai terdengar dari area luar. JJ terus bergelayutan seperti sugar glider yang tak mau lepas dari majikannya. 

Di dalam area konser, Dino menarik JJ menjauhi kerumunan yang terasa begitu sesak. Saking sesaknya Pemadam kebakaran beberapa kali menyirami para penonton. Posisi mereka kini jauh dari panggung, mereka mendapat suasana yang lebih nyaman, dan tetap dapat menikmati pertunjukan yang tersaji. 

Setelah beberapa grup musik yang mengisi acara, kini saatnya SkySka yang menghibur penonton. JJ berteriak kencang dan mulutnya tak henti bernyanyi. Suara dawai beriringan dengan gebukan drum yang menjadi harmoni dengan vokal dan instrumen tiup yang juga meramaikan.  

Seketika grup musik itu selesai, mereka memutuskan untuk segera pulang. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, lambung mereka belum terisi bahkan tak setetes air pun yang melewati kerongkongan mereka. 

“Terima kasih ya, Dino,” ucap JJ sambil mencubit kedua pipi Dino di tempat parkir, di hadapan motornya. 

Lihat selengkapnya