Pikiran Dino masih sering berada pada konser SkySka yang beberapa hari ia dan JJ saksikan. Di bioskop, saat pertama kali Dino dan JJ menonton layar lebar. Di sepanjang pertunjukan, sesekali Dino menoleh ke arah JJ dengan kepala yang tersandar pada bahu kanannya, tapi kali ini lehernya tak bengkok—tak ada helm yang menyempil—hingga ia bisa menempelkan pipinya di atas kepala JJ.
Mereka sesekali membahas film Munich yang sedang berlangsung, sambil menikmati camilan yang telah mereka sediakan. Tanya jawab terjadi tanpa saling memandang. Sampai akhirnya terhenti karena Dino tak mendapatkan jawaban dari JJ. Dino mengulangi lagi pertanyaannya, namun JJ tetap diam. Dino mencoba memalingkan wajahnya ke arah gadis itu yang ternyata matanya terpejam. Wajah lugu itu terpapar cahaya proyektor. Dino kembali merelakan lagi bahunya menjadi tempat peristirahatan JJ.
Film telah usai, rencana selanjutnya adalah bertemu Ibu. Di perjalanan pulang, Dino dan JJ menyempatkan diri membeli makanan favorit mereka di Kopi Warung untuk menjadi menu makan malam.
“Din, jujur gua takut.” JJ mengenggam tangannya.
Dino tersenyum kecil mengangguk. “Gua lebih takut, J, tapi gua harus begini buat Dino!” batin Dino.
Tak banyak pembicaraan di atas kendaraan, wajah mereka tegang sepanjang perjalanan. Senja datang, mereka tiba di rumah. Ibu yang sedari tadi menunggu langsung menyambut.
“Wah ini yang namanya JJ?” Ibu tersenyum lebar sambil bersalaman dan memeluk JJ.
Pelukan itu langsung mengendurkan wajah JJ yang tegang sedari tadi, napasnya menjadi lebih tenang. Sedikit kecanggungan reda dengan sendirinya, tak perlu waktu yang lama.
Mereka duduk bersama di sebuah meja dengan empat kursi, Ibu berada di seberang Dino dan JJ yang duduk bersebelahan. Terhidang makanan yang menjadi kesukaan Dino dan JJ yang juga sekarang kesukaan Ibu karena seringnya Dino membawakan makanan tersebut.
“J, jangan malu ya, anggap rumah sendiri aja ya. Maaf ya, Ibu hari ini gak sempat masak, tadi Dino mendadak sih bilangnya. Ibu senang banget ketemu orang yang Dino ceritakan setiap hari.” Ibu membuka pembicaraan sambil meletakkan makanan di piring JJ dan Dino.
JJ mengangguk dengan wajah memerah.
“Oh, iya mau bilang, kalian yang benar aja kalau pacaran. Boleh sih macam-macam tapi ada satu syaratnya.” Ibu mengacungkan jari telunjuknya.
Dino dan JJ saling menatap. “Apa Bu syaratnya?” Dino dan JJ kompak bertanya menatap Ibu.
“ME-NI-KAH! Udah itu aja,” jawab Ibu singkat
“menikah!??” JJ dan Dino saling pandang lagi.
“Ya kalau kalian sudah menikah, kalian mau ngapain aja terserah, gak akan jadi masalah, cuma itu kunci untuk macam-macam, paham?” tanya Ibu dengan tegas.
JJ dan Dino saling tatap bingung, dan perasaan itu melekat di sepanjang acara makan malam.
Dino diam-diam memperhatikan dengan teliti wajah Ibu dan JJ. “Kok mereka gak ngerasa mirip ya? Padahal jelas banget ini sama bentuknya. Memang sih Ibu sudah gak kencang wajahnya, tapi kan parasnya tetap mirip: mata, hidung, pipi, bahkan dagu juga mirip,” batin Dino. “Bu, J, kalian sadar gak sih kalau kalian itu mirip?” tanya Dino yang diiringi tatapan Ibu dan JJ.
Ibu dan JJ saling pandang. “Gak mungkin, Nak, JJ wajahnya cantik dan manis begini mana mungkin lah mirip sama Ibu.”
Dino berdeham, ia rapatkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya pada JJ. “J, menurut lu mirip gak?”
“Gak mungkin lah Din, Ibu jauh lebih cantik, lah gua kan begini adanya,” jawab JJ saling melihat ke arah Ibu.
Dino tak melanjutkan pembahasan itu lagi, ia diam dengan hatinya yang cukup puas setelah memastikan rasa penasarannya yang ternyata sesuai dengan pikirannya. Sembari mengunyah, Dino sesekali melirik ke arah dua makhluk di sekitarnya ini. "Makin di lihat makin mirip, tapi kenapa mereka gak sadar? Padahal jelas banget ini mirip.”
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, mereka duduk di ruang tamu dengan Ibu dan JJ di sofa dan Dino di hadapan mereka dengan sebuah kursi kayu. Dino menyilangkan kaki, dengan kaki kirinya berada di lantai dan kaki kanan yang menggantung, serta punggungnya yang menempel pada sandaran kursi. Dino merasa seperti melihat talk show di televisi, perbincangan mereka sangat menarik, semuanya berkat amunisi sebatang rokok di tangan serta kopi yang tergeletak di hadapan mereka.
“Ibu gak nyangka, momen ini terjadi juga.” Wajah haru Ibu mengiringi ucapannya..