Hari yang dinanti telah tiba, JJ telah memberitahukan pada orang tuanya mengenai kunjungan Dino ke Kota Goco, agar ada persiapan untuk menyambut tamu spesial yang ia bawa. Pria yang selalu JJ ceritakan pada kedua orang tuanya.
Pukul sembilan, JJ menghampiri Dino yang menantinya di depan indekos dan memberikan sebuah kaleng silinder biru berlabel “Blue Jeans”.
Pipo terkesiap, ia memandang kotak itu dengan matanya yang langsung memerah dan napasnya yang tersendat.
“Ini kan ... ini kado dari Mama tahun lalu. Parfum yang pernah dia kasih sama Pipo.”
“Din, kenapa?” JJ menepuk pundak prianya.
Dino tersentak dan segera menggelengkan kepala Tanpa memandang JJ.
“Mau gak nih? Kalau gak mau ntar gua jual jadi preloved.”
JJ mengambil parfum itu dari tangan Dino dan segera menyemprotkannya pada jaket dan leher Dino yang masih mengenakan helm dan balaclava.
“Waduh, ini balaclava disemprot, santer banget baunya J.”
“Udah gak apa-apa, biar sepanjang jalan lu ingat gua.” JJ terkekeh.
Dino tertawa kecil mengikuti JJ.
“2005 parfumnya beda! Bukan, ini bukan yang dikasih waktu 2029. Beda. Ini beda!”
Dino memacu motornya dan berhenti untuk memesan Zapiekankachumbaricotta di sebuah truk yang menjual makanan di taman tersebut.
Dino dan JJ menyempatkan diri untuk bersantap pagi, mengisi kekosongan pada lambung mereka, agar lambung mereka tak mengonsumsi dirinya sendiri.
Suasana taman cukup ramai saat ini, Dino dan JJ duduk di sebuah bangku yang berada di atas trotoar jalan di pinggir taman dengan truk makanan di sekitarnya.
Menyantap makanan dengan rasa gugup luar biasa, Dino rindu dengan orang tuanya JJ. Sedangkan JJ belum menyampaikan tujuan Dino ke sana, ia membiarkan hal itu menjadi sebuah kejutan.
Dino memacu lagi motornya setelah keduanya makan dan memasukkan kafein serta nikotin pada badan. Mereka tak banyak bicara, sama seperti hendak ketemu Ibu. Mulut mereka terkunci rasa takut.
Perjalanan ini lebih dari tiga jam. Motor melaju dengan kecepatan sedang, mereka membelah langit biru dengan matahari sudah mulai meninggi, teriknya mulai memanas.
“Kalau ngantuk tidur aja ya J, nanti gua bangunin kalau udah sampai Goco,” Dino berkata setengah memekik dikarenakan suara angin yang cukup mengisi telinga.
JJ menjawab dengan isyarat jempol kanan yang di tunjukkan dan menempelkannya di hidung Dino.
Angin perjalanan adalah obat yang sangat mujarab bagi penderita insomnia. Belaian lembutnya Dengan mudah membuat orang mengantuk. JJ mencoba bertahan, namun si kantuk pun menang yang membawa kesadarannya melayang hingga tiba di kotanya.
Dino mengarahkan motor menuju rumah JJ yang masih sedikit melekat di benaknya. Ia mencoba mengambil memorinya zaman dulu untuk mengingat detail jalanan yang harus ia lewati dan menghantarkan mereka tepat di depan sebuah perumahan yang bernama “Goco Valley”.
“JJ, bangun J!” Dino menepikan kendaraannya. Ia menepuk pelan punggung tangan JJ yang melingkar di perutnya.
“Di mana ini?” JJ mencoba mengembalikan kesadarannya.
“Sudah di depan perumahan.”
JJ Membuka matanya dan memandang fokus sekitarnya, wajahnya terheran. “Heh, lu kok bisa-bisanya sudah sampai di sini sih?”
“Iya, sudah dekat rumah kan ini?” tanya Dino polos.
“Ini namanya udah sampai. Jangan-jangan lu pernah tinggal di sini ya?” tanya JJ.
Dino terkesiap mendengarnya, badannya menegang seketika. “Eh ... gak, gua gak pernah tinggal di sini. Emang ini udah sampai? Kebetulan banget ya?” Dino menggenggam kuat handgrip motornya.
JJ berdeham, dahinya berlipat. Ia diam sejenak dan meminta Dino masuk ke area perumahan. Mereka berhenti di depan rumah berwarna putih bernomor tiga belas.
“Ayo masuk!” JJ membuka pagar membukakan jalan untuk Dino.
Dino masuk dan memarkirkan kendaraannya di sebelah mobil hitam yang terparkir di garasi. Ia turun perlahan dari tunggangannya dan melihat dua sosok manusia yang sedang tersenyum.
“Akas, Ajong.”
Bergetar hati Dino yang menjalar ke seluruh badannya. Ia melihat kedua sosok itu masih bugar, tak jauh dengan ingatannya sewaktu kecil.
“Hei, ayo!” JJ menepuk Dino.
“Iya, J.” Dino melepaskan helmnya, tetap melihat ke arah dua sosok paruh baya tersebut, sosok pria berambut putih dan sedikit gempal dan seorang wanita kurus dengan rambut lurus.
Dino mengikuti JJ dari belakang dan menghampiri kedua orang tuanya.
“Ubak, “ ucap JJ pada ayahnya. “Umak,” juga pada ibunya.
Dengan tangan basah dan bergetar Dino menjabat tangan Ubak. Ia mencoba tersenyum dengan jantungnya yang berdegup kencang.
“Wah, ini yang namanya Dino?” Ubak menepuk-nepuk punggung tangan Dino. “Eh, memangnya ujan ya di jalan?” Ubak melepaskan tangannya dan menyeka di celana.
“Gak, gak, gak ujan, Pak. Ah ... gu ...”
“Gugup dia, Bak. Kalau dia panik emang begitu.” JJ memotong lalu terkekeh.
Dino menyeka tangannya. “Iya gugup, Bak, gugup bener.”
“Bak?” JJ menatap Dino.
“Eh ... salah ya?”
“Oh, kamu mau panggil Ubak juga Dino? Boleh aja boleh, gak masalah. Buat kamu senyaman mungkin di sini.” Ubak menepuk kembali pundak Dino.
“Gak, gak gitu, Bak. Eh, Bak.”
Ubak tertawa. “Gak apa-apa, gak usah panik begitu. Saya senang akhirnya ketemu kamu. Setiap hari saya dapat kabar dari Feli kalau dia lagi sama kamu. Ini toh orangnya.”
“Iya, Bak, kebetulan saya setiap hari ketemu JJ.” Dino menjawab tegas, seolah tanpa takut di hatinya.
“Kebetulan kok setiap hari?”
“Eh, iya janjian, Bak, istirahat bareng.” Dino menggaruk kepala sembari melirik JJ.
“Tadi apa kamu panggil dia, J? JJ?” Ubak melihat Dino dengan heran. “Kok kamu bisa tahu nama itu? Tahu dari mana?”
“Iya Bak, JJ yang minta. Boleh kan Bak?” JJ memotong.
Ubak mengalihkan pandangannya pada JJ. “I ..., i ..., ya boleh, tapi rasanya aneh nama itu keluar dari mulut oleh orang lain. Kan itu khusus dari kami.” Ubak kembali menatap Dino lalu mengajak masuk.
Dino memutar kepalanya. Matanya aktif menatap sekeliling.
Dino dan Ubak duduk di ruang tamu, di sebuah sofa cokelat dengan meja kayu, di atasnya terdapat beberapa stoples yang berisi beberapa macam camilan kue kering. Sedangkan Umak dan JJ langsung menuju dapur.
Ubak membakar rokoknya, “Dino ayo ambil!” Ubak menaruh kotak rokoknya dengan korek di atasnya.
“Gak usah, Bak, ada nih.” Dino mengeluarkan rokoknya dan turut menyalakannya.
“Waktu kecil dulu pernah begini deh kayaknya, tapi pakai rokok cokelat.”