Dino mengingat perjalanan hubungan mereka yang berjalan lancar. Besok adalah hari yang berbahagia, ia duduk termenung di muka TV yang sedang menyala dan menonton pria yang asyik mengeluarkan asap melalui hidung dan mulutnya.
“Nge, sudah sejauh ini.”
“Gua pikir lu udah lupa, saking senangnya lu udah gak pernah panggil gua.”
“Waktunya setahun lagi, Nge.”
“Waktu segitu apa cukup buat Dino baru hadir di dunia?”
Kedua sejoli itu memutuskan untuk menikah di sebuah aula kecil yang berada di tepi Danau Goco. Pengunjung yang tak banyak, suasana intim terasa.
JJ tampil dengan gaun putih yang menjuntai menyapu lantai aula, sedangkan Dino berbalut jas dan celana hitam dengan kemeja putih yang membuatnya tampil sangat gagah.
Tangan Dino bergetar saat mengambil tangan JJ untuk ia cium ketika Dino hendak memasangkan cincin pernikahan mereka.
Mereka bak Raja dan Ratu pada saat itu, duduk di singgasana dan memperhatikan para rakyat yang sedang menyantap makanan pesta. Dino melirik Ibu dan kedua mertuanya yang kerap tertangkap menyeka mata. Begitu juga dengan JJ, beberapa kali ia berbisik. “Ini nyata, Din?”
Dino mengangguk tersenyum kecil. “Gua gak tahu J, gua masih belum tahu ini nyata atau bukan?” batinnya.
Kehidupan setelah pernikahan mereka putuskan untuk tinggal bersama Ibu, JJ tidak merasa keberatan harus pergi dari indekosnya yang menancapkan banyak kenangan.
“Din, aku mau diajari cara jualan ya, kan nanti pas jadi Ibu lu gak bolehin lagi gua ngantor.”
Mereka bersepakat jika JJ tetap bekerja hingga nantinya mereka mempunyai keturunan, dan ia akan fokus merawat anaknya serta menemani Ibu. Selain membantu tugas rumah, JJ pun aktif belajar berdagang dengan mertuanya serta suaminya. Setiap malam ia getol mencatat persediaan, utang, omzet, dan hal pembukuan lainnya, yang mana kegiatan tersebut dilakukan Ibu di luar kepala. Sedangkan Dino kini sering lembur dan dinas keluar kota. Satu bulan paling lama satu minggu ia berada di rumah meninggalkan Ibu dan JJ.
Setiap hari libur JJ berbelanja memenuhi persediaan warung. Pikirannya seolah sudah terkavling dan tidak tercampur antar kesibukannya.
“Kok JJ jadi sibuk banget ya, Nge?”
“Iya, betul banyak banget kerjaannya.”
“Apa dia sudah ada firasat bakal ditinggal?”
“Nanti dulu mikir itu. Mending lu bantuin dia. Kasihan istrilu. Udah ngantor, bersih-bersih rumah, jualan juga.”