Sabtu Pagi. Usia kehamilan JJ sudah memasuki tiga bulan dengan perutnya mulai terlihat berisi—semuanya akibat perilaku Dino.
Dino bekerja dengan giat meski ia sudah tahu masa depannya. Motonya ingin mengubah hidup dan menjadi lebih baik dari Pipo.
Akhir tahun, pekerjaan Dino tidak sesibuk biasanya, ia tidak lagi lembur dan tidak dinas keluar kota.
Meski begitu ia wajib masuk di akhir pekan saat pemeriksaan kantor pusat. Begitulah alasannya ketika keluar rumah meninggalkan Ibu dan JJ pada akhir pekan ini.
Di perjalanan, ia tidak mengarahkan motor ke arah kantor tempatnya bekerja, justru ia menuju ke sebuah pasar sentra barang-barang antik.
Di trotoar sekitar pasar, sudah banyak penjual barang-barang kecil untuk hiasan, seperti patung, korek, peralatan elektronik tua, dan lain-lain.
Kondisi di luar pasar sangat ramai, Dino yang sedari tadi sudah lirik sana sini, tak menemukan barang yang ia perlukan, hingga ia masuk ke dalam pasar. Kondisi yang berbeda langsung terasa, semua barang dijual di sini, dan tentu lebih rapi tak seperti di luar yang memakai trotoar sebagai lapak jualan dan membuat pejalan kaki harus mengalah.
Dino mendatangi sebuah kios yang memajang banyak barang elektronik lama, matanya tertuju pada sebuah kamera yang ada di dalam sebuah etalase.
“Ini baru atau bekas, Bang?” tanya Dino.