Kesunyian malam dan kesendirian di warung, Dino menyalakan bara pada ujung rokok. Matanya menatap cecak yang sedang merayap pelan di dinding mendekati seekor lalat yang terjerat jaring laba-laba.
“Nge, kalau begitu cecak itu lagi beruntung atau laba-labanya yang apes?”
“Beruntungnya seseorang kan bisa jadi kemalangan buat orang lain.”
“Betul, Nge, lalatnya juga aneh terbang ke sarang predator.”
“Andaikan dia bisa ke masa lalu, pasti lalat itu gak balik ke sana.”
“Iya, betul, kan dia bukan keledai.” Dino mengisap dalam rokoknya, ia hembuskan perlahan dari kedua lubang hidungnya. Matanya berkedip cepat lalu menggaruk kepalanya.
“Artinya gua keledai ya?”
Beberapa hari kemudian Dino berencana merogoh kantongnya dengan cukup dalam, ia berencana membeli sebuah komputer desktop serta konsol permainan yang sangat banyak manusia mainkan pada masa itu.
“Jangan sampai gaptek kayak gua. Digital dan internet adalah masa depan, Nge.”