Di suatu siang saat istirahat bekerja, kantin padat seperti biasanya. JJ dan Dino baru duduk berhadapan, mereka baru selesai makan siang. Dino tersenyum menahan asam pada mulutnya, karena sejak mengandung tak ada ritual pembakaran tembakau di depan istrinya lagi.
“Din, udah gua kasih tadi surat resignnya.”
Dino menatap kosong keramaian di hadapannya.
“Din ... Din.”
Dino masih bergeming.
“Hei!” JJ menepuk tangan Dino.
“Eh, Apaan?”
“Tadi udah gua kasih surat resignnya ke HRD.”
Dino mengangguk pelan.
“Please jangan buang-buang duit lagi. Pasti kita butuh banyak setelah ada anak.”
Dino mengangguk lagi. “Iya, JJ, jangan dibahas lagi.”
“Hm ... sama satu lagi, belakangan lu sering begini deh Din, sering gak nanggapin gua ngomong.”
“Kadang gak dengar gua, J.”
“Ah males, udah dekat begini masa masih gak dengar.” JJ memajukan bibirnya.