Hari Jumat terakhir di masa hidup Dino. Ia terduduk dengan wajah pucat menatap layar laptopnya ditemani secangkir kopi yang membuat jarinya semakin lincah menari di atas papan ketiknya.
“Harus minim salah, harus minim revisi,” batinnya selama pengerjaan laporan.
Ia begitu fokus hingga tak menyempatkan diri untuk istirahat, apa lagi semenjak JJ tidak masuk bekerja, semangatnya makan siang pun sirna.
Selain itu laporan yang ia buat harus selesai sebelum hari Senin, sehingga mau tidak mau akhir pekan ini mereka harus masuk bekerja.
Dino mengusulkan untuk bekerja di hari Sabtu, namun atasannya menolak karena harus menghadiri sebuah acara pernikahan koleganya. Alhasil hari Minggu mereka yang menjadi korban, atau tepat pada hari kelahiran Dino.
Menahan kesal, Dino mencoba tenang saat pulang bekerja karena ia ingin menyerahkan kotak warisan yang telah disiapkan. “J, lihat dong ini.” Dino mengeluarkan kotak hadiah yang ia bawa.
“Ih ..., udah ada yang kasih kado, dari siapa itu?”
“Dari gua, J”
“Buka aku ya Dino, saat usia kamu 22 tahun.” JJ membaca catatan yang ada di kotak kado itu. “Din, maksudnya apa sih? Buat siapa ini?”
“Buat Dino junior, J.” jelas Dino singkat sambil memberikan kotak tersebut.
“Loh kok buat Dino di umur dua puluh dua tahun? Kemarin sudah ada game, sekarang kotak ini. Maksudnya apa? Aneh banget lu. Kan kemarin udah janji gak buang duit.” Suara JJ meninggi.