Sabtu pagi ini, matahari sudah cukup tinggi, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. JJ terbangun dengan Dino yang masih terlelap di hadapannya. Mata Dino sedikit bengkak dan hidungnya agak memerah.
“Din, ayo bangun. Mumpung libur, temanin jalan kaki.”
Dino membuka matanya perlahan, beberapa kali ia mengerjap dan mengucek matanya.
JJ pandangi wajah Dino beberapa saat lalu tersenyum. Ia kecup dahi suaminya lalu berjalan keluar dan menghampiri Ibu yang sedang berada di singgasananya di warung.
“Bu, maaf Bu baru bangun, Dino juga masih tidur Bu, kayaknya Dino kelelahan pulang malam terus. Jadi gak sempat buka warung.”
“Eh JJ, gak apa-apa J. Yang penting kita gak boleh sakit, istirahat kalau capek ya wajar J. Apalagi kayak kamu, harus banyak istirahat biar sehat-sehat terus.”
JJ mengangguk dan berjalan lagi menuju suaminya. Dino sudah bangun dan duduk menunduk di tepi ranjang.
“Din, ayo keburu panas.”
“J, maaf.”
“Udah, Din, gak ada yang salah, gak ada yang perlu dimaafin. Lagian entar malam ada yang ulang tahun. Kita harusnya senang hari ini, kamu sudah seperempat abad.”
“Dua lima ya?” Dino bergumam.
JJ terus menariknya keluar. “Dan ingat juga ulang tahun pernikahan kita nanti malam, Din.”
Mereka keluar dari rumah berjalan kaki mengelilingi kampung mereka tinggal.
“Jalan kaki terakhir?” batin Dino sembari menggenggam tangan JJ, mereka berjalan pelan. Dengan kakinya yang terbuka karena perutnya yang membesar, JJ cukup kesulitan mengatur napasnya.
Dino sesekali melirik JJ. Ia cukup takut memandang istrinya yang selalu saja tersenyum “Apa gua tega ngubah itu jadi tangisan besok?”