Pagi ini Dino duduk di warung dengan wajah tegang dan memucat.
“Lu gak jadi kerja?” tanya JJ.
“Hari spesial harus tetap masuk, rasanya males banget.”
JJ duduk di meja di sisi Dino. Tangannya menggenggam tangan Dino yang tergeletak. “Din ... kalau rasa malas udah nguasain lu, dan lu udah kena candunya, bisa-bisa satu keluarga bakal terancam. Kecuali lu punya rencana lain.”
“Tapi kan, J ...”
“Gak tapi-tapi, Din, ini kewajiban lu, jangan gara-gara mau tenang satu hari, hidup kita nanti gak tenang selamanya.”
Dino bergeming.
“Udah siap-siap, kerja sana. Telat gak apa-apa, dari pada bolos. Gua bikinin kopi dulu.” JJ meninggalkannya.
“Andaikan hari ini gak terjadi apa-apa, artinya hidup tetap normal kan? Tapi apa benar hari ini hari terakhir?”
Dengan berat hati Dino meninggalkan rumahnya. Ia menjalani rutinitasnya seperti hari-hari biasa. Hingga pukul tiga sore, Dino mendapatkan panggilan dari JJ.
Jantungnya mulai tak normal. JJ memintanya pulang karena rasa mulas yang sudah tak tertahankan.
“Pipo meninggal kecelakaan, kejadiannya sama persis dengan cerita Mama,” gumamnya.
Dino bergegas pulang, motornya melaju kencang seiring dengan laju darahnya menembus langit mendung berangin. Pikirannya tak terpaku pada jalanan, kepalanya begitu berisik, ia keluarkan melalui mulutnya yang terus meracau. Dua jam lebih di perjalanan tak menyisakan letih di wajahnya.