Ubak dan Umak tiba di rumah sakit. Sebelumnya sembari mengerang karena rasa mulas JJ menghubungi mereka.
Mereka masuk ke lobi dan memandang heran kondisi lift rumah sakit yang porak-poranda di lantai dasar dengan garis polisi yang melintang. Beberapa orang berbincang sembari menunjuk dan menghadap ke lift dari luar garis tersebut.
Rasa penasaran mendorong Ubak bertanya pada seorang pengunjung, ia mengangguk mendengarkan.
“Terjun bebas dari lantai 7, Pak? Kasihan sekali!” Ubak mengusap dagunya.
“Ayo, Bak, cucu kita sudah lahir ini malah asyik ngobrol.” Umak menarik tangan Ubak.
Mereka menuju resepsionis bertanya mengenai JJ. Petugas bertanya beberapa kali, mereka tak menemukan data pasien yang disebutkan oleh Ubak.
“Ada satu pasien melahirkan yang belum mendaftar, mungkin itu yang Bapak maksud,” ucap petugas setelah memastikan kembali.
“Kenapa bisa belum terdaftar? Anak saya tadi telepon sudah dari beberapa jam lalu di sini. Seharusnya sudah aman dong administrasinya!”
Petugas itu menarik napas panjang menatap Ubak dengan wajah bingung. “Pak, saya bantu arahkan ke petugas kepolisian ya.”
“Kenapa ke kepolisian? Ini kan cuma perkara melahirkan,” Ubak berkata dengan wajah heran.