Dino baru masuk Sekolah Menengah Pertama. Saat ini ia tetap sendiri, masih sama seperti masa kecilnya yang jauh dari pertemanan. Namun sudah tak ada lagi yang mengoloknya, dan Dino pun sudah terbiasa dengan kata “yatim” yang melekat di nama panggilannya.
Pergi sekolah ia berjalan kaki menuju jalan raya untuk menaiki transportasi umum. Di sebuah rumah yang ia lewati, ada begitu ramai orang setiap paginya. Asap keluar dari beberapa jendela yang dibuka lebar, terlihat orang yang sedang memasak. Tempat itu adalah pabrik yang memproduksi donat dengan taburan gula halus di atasnya. Orang-orang mengantre hendak membawa donat tersebut untuk mereka jual dari pintu ke pintu—Dino adalah salah satu pelanggan.
Saat jam istirahat di sekolah, Dino lebih memilih berdiam diri di kelas. Di sudut ruangan, ia sendirian memperhatikan orang-orang yang sedang makan lalu ia tersenyum.
Esok hari, Dino sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
“Kita datangin saja nih, Nge?”
“Satu sen bagi hasilnya, besar juga itu.”
Dino keluar dari rumah dengan langkah gegap gempita, ia berhenti tepat di depan pabrik donat. Tangannya yang sedikit basah ia kepal dengan kuat, langkahnya berlanjut mendatangi pabrik tersebut dan berbicara pada pemiliknya.
“Pak, saya mau ikut jualan donat.”
Sang pemilik yang merupakan tetangganya menggelengkan kepala. “Kamu mau bolos sekolah? Tugas kamu itu sekolah, Dino, bukan jualan. Lagian kamu mau jual di mana?”
“Saya jualan di sekolah, Pak, di kelas. Di sekolah kantinnya kecil, jadi banyak yang makan di kelas.”
“Memang kamu dibolehin ibu kamu? Dibolehin oleh sekolah?”
“Mama gak perlu tahu, lagian ini tidak ngerepotin dia dan di sekolah tidak masalah untuk jualan, Pak. Saya tanya dengan yang jualan, upahnya satu sen kan, Pak?”