Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #29

SOP

Dino saat ini sudah dinyatakan sebagai mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Negeri Bebala. Ia tidak lagi berbisnis seperti masa lalunya, setelah akunnya di-banned dan pabrik donat milik tetangganya bangkrut. 

Semester pertama, Dino memulainya dengan penuh antusias. Namun semua tak seindah yang ia bayangkan, ia begitu kesulitan mengikuti pelajarannya. Mulai dari Algoritma Pemrograman, Rekayasa Perangkat Lunak, dan banyak mata kuliah yang berhasil menghancurkan keyakinannya. Kepalanya yang dulu penuh dengan perhitungan bisnis seperti laba dan rugi serta rencana ekspansi, sekarang harus dipenuhi oleh syntax error. Ia menutup semester pertama dengan beban pada Mama. 

Semester dua, kebutuhan pendidikan tidak hanya ada pada nilai. Dino mulai aktif mengikuti organisasi untuk mengembangkan softskill-nya. Semula kuliah pulang kuliah pulang, saat ini ia menjalani kuliah rapat kuliah rapat. Hingga ia menutup semester genapnya dengan angka akademis yang tidak beranjak. 

 Dino termenung di depan komputernya, tangannya sedang bergerak lincah di atas papan ketik. Mama datang dari dapur dengan segelas kopi hitam yang ia serahkan pada anaknya. 

“Masih belum bisa ngikuti pelajarannya?” 

Dino membalikkan badannya menatap Mama. “Belum. Susah banget, Ma. Kok dulu Akas bisa ya jadi dosen mata kuliah sulit ini?” 

“Ya Akas kan emang beda, dia tertarik dengan dunia IT kan karena memang suka pelajarannya, kalau kamu kan pilih jurusan ini karena suka nge-game.” 

“Dino cuma tahu kulitnya, benar-benar gak bisa ngerti lebih dalam lagi.” 

“Coba kamu pikirkan lagi, kalau memang bisa dilanjutkan ya kamu teruskan, kalau gak ya ganti jurusan, Nak.” 

Pada semester ketiga, kegalauan mulai melanda, Dino Menutup semesternya masih dengan keburukan yang sama. Bayang-bayang bisnis mulai memenuhi pikiran dan membelah fokusnya. Organisasi yang ikuti selama satu tahun pun tak berdampak apa pun pada kehidupannya. 

Di suatu malam, Dino menyerahkan ponselnya pada Mama yang sedang menanti pembeli sembari membakar sebatang rokok. 

“Apa ini?” Mama melirik ke arah Dino. “Kamu mau kerja? Atau ini magang aja?” 

“Ya ini kerja sih Ma, tapi emang buat mahasiswa.” 

“Promotor Ponsel? Apa itu?” 

“Kata teman Dino yang jadi itu ya kayak sales atau marketing gitu, Ma.” 

“Halah ... halah ... cuma kuliah aja nilai kamu begitu, apa lagi sambil kerja.” 

“Tapi, Ma ...” 

“Kamu fokus kuliah aja, lulus dulu baru kerja.” 

“Kalaupun nanti lulus Dino rasanya gak akan di IT, Ma. Kalau sekarang sudah kerja kan nanti pas lulus gak susah nyarinya lagi karena sudah ada pengalaman.” 

“Kamu itu jawab terus kalau dibilangin. 

Semester keempat. Tekad Dino untuk bekerja meningkatkan semangat belajarnya. Setiap hari ia terus mengejar kata “iya” dari Mama agar menyetujui idenya untuk bekerja. Dan ia menutup semester ini dengan angka yang sedikit lebih baik. 

“Kira-kira kenapa masih belum disetujui, Nge?” 

“Ya jangankan Mama, gua aja ragu kalau nilai lu bakal aman setelah lu bekerja.” 

“Tapi sewaktu sekolah gua bisa jauh lebih baik nilainya sembari cari uang, Nge” 

“Sewaktu sekolah kan pelajarannya belum sesulit sekarang.” 

“Tapi yang gua rasain dan lu pasti rasain juga, semangat itu beda banget rasanya, Nge.” 

“Bukannya itu cuma sugesti?” 

Dino tak lagi menjawab. Ia fokus menatap layar ponsel yang berisikan pergerakan nilainya dari semester ke semester yang menanjak sedikit, dan tren itu terjaga hingga semester lima. 

Semester enam di saat semua mahasiswa sedang menyiapkan dan menentukan tema skripsi, Dino memutuskan hal yang berbeda. Secara diam-diam ia melamar pekerjaannya melalui situs rekrutmen karena tak kunjung mendapatkan restu. 

Lihat selengkapnya