Hayalism

Pipo Vernandes
Chapter #30

Kapan Pensiun?

Hari ini langit biru sedang menyelimuti, awan terlihat jarang yang membuat matahari terasa sangat senang bertengger tanpa penghalang. Angin melaju cukup kencang dan sedikit mendinginkan suhu. 

Duduk di warung, Dino dan Mama saling diam, hanya asap rokok yang saling bersahutan. 

“Dino mau Mama pensiun jualan.” 

Mama menatap Dino yang semula hanya melihat kosong meja di depannya. 

“Dino kerja mau Mama istirahat, biar Dino yang tanggung semua,” 

Mama menggelengkan kepala dan mulutnya tetap terkunci.  

“Dino gak mau Mama nolak.” 

Mama menengadahkan kepala, napasnya terasa tersendat. “Kamu baru dua satu, hidupmu masih panjang dan Mama masih bisa berusaha. Kenapa repot-repot banget?” ucap Mama dengan terbata-bata. 

“Gak ada yang repot di sini, Ma.” 

“Mama mau kamu selesaikan dulu kuliahmu itu. Lagian apa urgensimu untuk kerja? Mama masih sanggup hidupin kamu.” 

“Dino gagal di kuliah, Ma. Dino akan selesaikan, Dino janji! Ini langkah antisipasi, biar lulus tetap bisa kerja sesuai dengan bakatnya Dino, yang mana sekarang bekerja harus ada pengalaman. Mama kenapa gak pernah percaya kalau Dino bisa?” 

“Kamu tahu, Pipo sebelum meninggal bilang apa? Pipo bilang dia gak akan ke mana-mana. Dan kamu ingat Akas bilang apa? Dia akan selalu ada buat kamu. Tapi lihat ke mana mereka sekarang? Gak ada dari mereka yang nepatin janji. Mama gak mau kamu janji begitu, Mama cuma mau kamu selesaikan apa yang sudah kamu mulai.” 

Dino mengisap rokoknya dalam-dalam. “Dino yang akan jalanin semuanya, ini hidup Dino. Dino janji akan bawa Mama ke wisuda Dino nanti.” Dino menunduk. “Dino cuma mau restu Mama.” 

Angin berembus membuat bunyi-bunyian di ruangan hening pada produk rencengan yang tergantung. Mama menghabiskan rokoknya dan mengangguk. “Ya, sudah. Mama ngalah. Tapi ingat, jangan pernah kamu minta mama berhenti cari uang! Sepanjang hidupmu itu tanggung jawab Mama. Gak peduli uang kamu sebanyak apa, kamu tetap kewajiban Mama.” Mama menuju kamar meninggalkan Dino. 

Dino menghabiskan rokoknya dan bersiap di dalam kamar. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan celana hitam. Di depan cermin ia memandang datar bayangannya ketika menyisirnya. Sebelum berangkat ia mencari Mama yang masih mengurung diri dalam kamar. 

Lihat selengkapnya